Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Duit di tangan orang, jangan dihitung apalagi diharap!!!

"Duit di tangan orang, jangan dihitung apalagi diharap!!!" "Maaaa, Nis mau beli buku" kata nisa suatu hari di tahun 90-an.  "Tanggung bulan, Nis. Bisa nunggu tanggal muda enggak ?" Tanya Mama Nis diam.  "Ya udah, Nanti Mama nagih dulu ya" kata mama menenangkan.  Mamaku janda. Janda tangguh yang menghidupinya ketiga anak perempuannya dengan dagang kertas, buka percetakan. Nagih berarti mendatangi orang yang punya hutang dagangan. Nagih ini semacam gembling, enggak selalu dapat. Apalagi kolega mama sebagian besar orang-orang kantor pemerintahan. Bisa jadi yang empunya utang sedang dinas ke luar negri, ke luar kota, cuti atau enggak punya duit. Klo enggak dapat nagih uang dagangan, alternatif lain adalah nagih uang kontrakan.  Iya, Mama punya petakan rumah sewa di bilangan pusat dan barat Jakarta. Asetnya itu bukan hasil warisan. Waktu kami masih kecil-kecil, Mama lebih banyak berpuasa. Mama tidak banyak membeli baju dan aksesoris seperti ibu-ibu la

Sedekah

Sedekah  Sebagai anak singel parent, kadang, nis enggak habis pikir bagaimana mama bisa punya uang menyekolahkan dan mencukupi semua kebutuhan tiga anak perempuannya, seorang diri.  Nis pernah tanya, dengan mata menerawang, Mama jawab "Allah maha baik, mama dapat di luar hitungan matematis" Walau tidak berlebihan, tapi mama dapat mensejajarkan kami dengan anak-anak lain. Kami dapat sekolah di sekolah terbaik negri ini, mengakses buku, mendapat gizi yang cukup dan hidup yang layak.  Nis ingat satu kebiasaan mama yang selalu memberi, tanpa mengeluh. Memberi setiap pengamen, pengemis yang mendatanginya. Mama selalu menyiapkan uang receh ditasnya. Baik dalam bentuk logam maupun uang kertas. Tanpa risih mama memberikan uang kecilnya, tak peduli berapapun banyaknya mereka. Seperti yang kita tau, satu diberi mereka akan memanggil teman-temannya yang lain. Kadang dengan alat musik yang sama, hanya beda orang. Pengemis itu, datang dari jauh, acapkali hanya mendatangi tempat Mama berad

Uang masjid

Suatu malam, rumah kami kedatangan seorang teman mama- beliau pengurus masjid tidak jauh dari rumah. Dari obrolan yang nis curi dengar, mama ditawari memegang bendahara masjid sekaligus membuat laporan keuangan. Mama ahli dalam hal ini, mama seorang akuntan yang lari berdagang.  Jaman itu, pengurus masjid menjadi profesi yang memiliki status sosial khusus di masyarakat. prediksiku, mama akan menerima tawaran itu. Terlebih yang datang adalah orang terpandang. Tapi mama menolaknya dengan halus. "Ibu kan dagang, uang ini bisa jadi modal. tambah-tambah dagangan ibu biar banyakan. Laporan masjid cuma berdasarkan jumlah saldo yang tercetak di buku tabungan. ATM kan ibu yang pegang" ucap beliau mencoba menawar. Mama tetap pada pendiriannya. Aku kecewa mendengarnya.  Setelah tamunya pamit, nis dekati Mama yang duduk diam di teras. Matanya menerawang. Tanpa ditanya, mama bilang "Kalian masih kecil. Masih banyak kebutuhan. Mama takut khilaf pegang uang orang. Apalagi itu uang umma