Islam, kok sekolahnya di Sekolah Kristen sih ?

Judul diatas adalah reaksi spontan yang paling halus dari orang-orang yang mendapat jawaban atas pertanyan mereka perihal keputusan  saya yang satu ini. Biasanya disusul dengan serentetan cibiran, penghakiman hingga ceramah untuk saya sebagai orang tua yang buruk karena sudah dengan sadar dan sengaja "nyemplungin" anak di sekolah Kafir.




Sudah kebal rasanya saya dan putri saya mendengar semua itu. Rasanya, saya tak perlu menjelaskan alasannya kepada satu persatu orang. Karena mereka tidak sungguh-sungguh butuh jawaban dan peduli pada kami. Sorry to say...Orang-orang suci itu, hanya pandai menghakimi. 

Tapi saya tidak keberatan untuk menuliskan alasannya disini.

1. Mari belajar dari sejarah

Christiaan Snouck Hurgronje adalah orang belanda yang merupakan ilmuwan pertama yang belajar islam langsung dari Saudi pada abad 18. Hurgronje pandai berbahasa Arab, Aceh, Melayu dan Jawa. Dia memeluk budaya dan agama islam dengan penuh gairah sehingga ia berhasil membuat kesan kepada orang-orang bahwa ia masuk Islam. Dia mengaku berpura-pura menjadi Muslim (hipokrit) seperti yang ia jelaskan dalam surat yang dikirim ke teman kuliahnya, Carl Bezold pada 18 Februari 1886 yang kini diarsipkan di Perpustakaan Universitas Heidelberg. 
Hurgronje berperan penting dalam jatuhnya Aceh ke tangan Belanda. Sebagaimana yang kita tahu melalui sejarah, Kesultanan Aceh adalah kerajaan yang sangat tangguh dan terhitung paling terakhir menyerah pada Belanda. 
Dalam Perang Aceh (1873-1913) Dia menggunakan pengetahuannya tentang budaya Islam untuk merancang strategi yang secara signifikan membantu menghancurkan perlawanan dari penduduk Aceh dan memberlakukan kekuasaan kolonial Belanda pada mereka, mengakhiri perang 40 tahun dengan perkiraan korban sekitar 50.000 dan 100.000 penduduk tewas dan sekitar satu juta terluka.
Hurgronje setidaknya tercatat pernah menikah beberapa kali setelah pernikahan resminya dengan wanita Belanda. Baik di Saudi maupun di Indonesia. Pada tahun 1890 Hurgronje menikah dengan putri seorang bangsawan pribumi di Ciamis, Jawa Barat. Empat anak telah lahir dari pernikahan ini.

 

Siasat ini bukan hanya dilakukan oleh Hurgronje. Tapi juga dilakukan oleh banyak orang Yahudi. Mereka menempatkan anak-anak mereka di lingkungan musuh. Membiarkan keturunan mereka belajar dan hidup di sana dengan atau tanpa tujuan tertentu. Dan sejarah membuktikan seperti apa ampuhnya siasat itu. 

2. Sekolah buat saya bukan hanya investasi masa depan. Tapi sekolah berarti memutus mata rantai kemiskinan dengan "membeli budaya". 
Sekolah penting tapi tak berarti banyak. Karena waktu disekolah tidak sebanyak waktu anak berada dirumah. Menurut saya, rumahlah yang berkontribusi banyak membentuk anak-anak kita.  Maaf, Saya tidak bilang sekolah islam tidak bagus. Saya mempercayakan sekolah islam untuk pendidikan dasar ketiga buah hati saya. Sekolah Islam Premium. Perkembangan anak-anak saya luar biasa disana. 

Saya berharap sekolah menanamkan budaya juang kepada anak. Dan budaya juang tidak terbentuk dari belajar yang santai. Pekerjaan rumah jarang, ulangan satu dua kali, ujian diberikan rangkuman yang harus dihafal dan pasti diujikan. Tidak ada sistem drope out. Yang penting hanya orang tua bisa bayar, diatas kertas baik, memiliki ritual ibadah yang terlihat baik dan hafal Quran dan hadist. Mungkin, ini memuaskan sebagian besar orang tua.

3. Bayangkan jika seseorang lahir dari bapak ibu yang islam, besar di lingkungan dan keluarga islam, sekolah disekolah islam dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Itu yang mungkin banyak terjadi sekarang. Fanatisme tumbuh subur disana. Jangan lupa, Fanatisme lambang kebodohan! Terbiasa menjadi mayoritas akan menjadikan seseorang merasa paling baik dan paling benar sehingga merasa berhak menghakimi orang lain. 
Terbiasa hidup menjadi mayoritas juga membuat kita tumbuh jadi orang yang apa-apa serba merasa enggak enak. Takut mengungkapkan pendapat. Takut jika tidak diterima kelompok kita. Takut berbeda. Dan tidak pernah sepakat dengan tidak sepakat. Padahal menjadi berbeda itu hak. 

 

Atas dasar pertimbangan ini, setelah ditega-tegain...dengan Bismillah, secara sadar dan sengaja saya "nyemplungin" putri saya ke Sekolah Kristen. Agar dia memiliki daya juang.  Sekolah 5 hari seminggu dari jam 6.45-14.45, Dihantam tugas dan ulangan hampir setiap hari 1-2 mata pelajaran hanya dengan aba-aba "pelajari bab sekian" Dengan target nilai minimal 7,1 kurang dari itu harus her. Dituntut mengikuti pelajaran agama kristen dan memahaminya dg baik. Naik kelas bukan sesuatu hal yang pasti akan didapat. Siswa harus berkompetisi untuk bisa naik kekelas yang lebih tinggi. Nilai diatas kertas harus bersebanding lurus dengan perilaku. Karena nilai saja tidak berarti banyak jika sikap siswa dinilai buruk, walaupun memiliki sikap dan ritual agama yang baik. 

Saya bersyukur, putri saya pernah di bully di sekolahnya terdahulu. Karena kulitnya lebih gelap. Bocah Kampung mereka bilang. Bully itu yang kemudian membuat anak saya tidak memiliki banyak teman dan pretasi sekolahnya rata-rata air. Waktu itu, saya tau apa yang terjadi walaupun putri saya tidak pernah bercerita. Tapi saya memilih diam. Saya membiarkan dia menghadapi masalahnya sendiri. Saya tidak pernah datang ke sekolah untuk bersosialisasi dengan para sosialita sekolah. Karena saya harus mencari uang untuk bayar sekolah. Saya mencukupi kebutuhan putri Saya sesuai kemampuan saya. Agar dia bergaya sesuai pula dengan kemampuannya. Mungkin, ini juga yang menjadi biang keroknya. Putri saya bercerita, dulu dia pernah berdoa agar Allah menukar Mamanya. Dengan Mama seperti teman-temannya. Karena disengaja atau tidak lingkungan mendikotomi si kaya dan si miskin.

Setengah tahun menjelang lulus, saya ajak putri saya touring ke beberapa sekolah. Sekolah negri, sekolah nasional plus, sekolah internasional dan sekolah / asrama berbasis agama. Putri saya memilih sekolah berbasis agama. Tapi bukan agamanya. Dan saya menghormati pilihan itu. 

Di sekolahnya sekarang, putri saya lebih terlihat "Happy". Dia bilang teman-teman baru dapat menerimanya. Walau dia terlihat paling gelap kulitnya, Walau hanya dia yang beragama islam di angkatannya dan banyak kekurangan lainnya yang putri saya miliki. Tapi semua itu tidak lantas dijadikan alasan untuk mereka yang mayoritas membenci putri saya. 

Putri saya belajar menjadi minoritas. Biar dia mempraktekan apa yang dia pelajari dalam pelajaran PKn dan Agama dalam kehidupannya sehari-hari. Dari argumentasi dan diskusi yang terbangun diantara kami, Saya tau bukan hanya intelektualnya saja yang berkembang disini. Tapi juga kedewasaan dan kemampuannya beradabtasi. Karena hidup bukan melulu urusan agama. Di dunia ini bukan cuma ada islam. Indonesia mengakui 6 agama. 

6 bulan dia sekolah disana. Putri Saya dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Nilai Pelajaran Agamanya diatas rata-rata. Dia bilang, Belajar Agama Kristen kayak belajar sejarah, Ma...Aku ambil aja yang baiknya. Percaya atau tidak, putri saya menjadi lebih relijius saat dia sudah menjadi minoritas. Shalat dan mengajinya tanpa diminta seperti sebelum-sebelumnya, dia menjadi orang yang lebih bisa mensyukuri apa yang dia miliki dan  Dia juga menjadi orang yang lebih bisa memaafkan dan mentoleransi orang lain. Awalnya, Saya merasa tidak mengenali putri saya :)

Terimakasih sudah membaca tulisan ini. Saya harap Anda dapat membacanya dengan bijak. Jika dianggap salah dan menyinggung, dengan segenap kerendahan hati saya memohon maaf dan kepada Allah saya memohon Ampun. Tulisan Ini tidak bermaksud menjatuhkan atau membanggakan sesuatu, apalagi mencari sebuah pembenaran. Tulisan ini merupakan penjelasan dan opini saya pribadi sebagai orang tua yang dianggap salah memberikan jalan untuk putri saya. Saya hargai setiap saran dan kritik yang disampaikan secara santun. Anak selayaknya kertas putih, bukan? Masing-masing dari kita berhak menuliskan apa saja yang kita anggap baik menurut pandangan kita. Dan keberanaran sifatnya Profan. 

Bekasi, 29 November 2016

Teruntuk Putri Sulung ku Fatihatul.NM. 
Kelas 7F SMPK Penabur HI

Baca juga ; Biaya Masuk SMPK. Penabur Harapan Indah Bekasi

Komentar

archa bella mengatakan…
I wanna hug you..sist.
Good point of view !
Ulfa Chaniago mengatakan…
Saya yang belum menikah dan punya anak saja dari dulu sudah berkeinginan utk "nyemplungin" anak saya kelak ke sekolah yang berbasis agama lain, karna toleransi beragamanya nya dan saya sangat yakin di sekolah² tersebut mereka lebih memprioritaskan belajar daripad bergaya dan saling pamer kekayaan..

Saya sangat salut akan keteguhan hati mbak nya untuk tidak memperdulikan mereka yg nyinyir hanya krna "nyemplungin" anak mbak ke sekolah berbasis agama lain..

hihihi..
semangat trus ya mbak..

salam buat si kakak, si mas dan adek fara.. :)
Unknown mengatakan…
Baik..memberi pengetahuan..menarik utk dibaca..
Arni mengatakan…
Yes. Setuju sepenuhnya sama tulisan ini
Memasukkan anak ke sekolah atau lingkungan seragam justru membuat pola pikirnya terkungkung dan sulit menerima perbedaan. Padahal kelak di masa depan dia mau tak mau harus menghadapi dunia yang luas dengan segala warna warninya. Ketika dia tak siap, itulah awal bibit kebencian tumbuh dalam diri
Anonim mengatakan…
salut mom...saya juga muslim dan prinsip saya serta suami sama dgn mom,anak kami saat ini tercatat jg sbg siswa di SMAK BPK PENABUR Summarecon bekasi...semoga menjadi berkah & tauladan bagi sesama
Unknown mengatakan…
Salut... Luar Biasa.
Unknown mengatakan…
Salut. Luar Biasa mom
Nanisa Indra mengatakan…
Anonim, Terimakasih ya...sukses :)
Awesome You Lord! mengatakan…
hebat banget ini ibu
kalau saja 50% ibu Indonesia seperti ibu
Unknown mengatakan…
tulisan yang sangat bagus... juga terkesan sama putrinya, sudah kelihatan dewasa sekali bersikap
Unknown mengatakan…
very inspiring sis, God bless u more...
Sonata mengatakan…
Salut, terharu dan menginspirasi. Kiranya putrinya sukses dan Allah memberkati dalam segala niat baik ibu. Amin
Ruth Kartika Sari mengatakan…
Saya guru di smpk penabur pernah sekedar share dan bertanya ke salah satu ortu yg minoritas.. Merwka cman blg biar anak saya jadi bs menghargai dan saya akui anak2 muslim yg sekolah di tmpt saya mereka sangat2 baik tingkah lakunya.. Proud of you all mom.. Toleransi harus dilatih sejak dini
leonardo mengatakan…
luar biasa moderatnya Ibu, saya sangat mengapresiasi pemikiran dan pendapat Ibu.. semoga tulisan Ibu ini membuka mata dan hati yang masih nyinyir terhadap hal ini.
Terus semangat bu membawa putrinya dalam kedewasaan berpikir dan menentukan sikap secerdas Ibunya..
osmelia mengatakan…
Nangis mbak bacanya.. Di jaman now inih susah sekali ketemu orang yang punya pemikiran terbuka seperti Mbak. Tuhan Memberkati mbak sekeluarga.. Sukses buat Kakakak yaa Mbak, dia pasti jadi orang hebat suatu saat nanti. dibesarkan oleh Ibu bijaksana seperti mbak
Unknown mengatakan…
Semoga BPK PENABUR bisa menjaga mutu dan mengembangkan toleransi bagi murid2nya sehingga ekspektasi ortu terjawab, khusunya yg non Lristen
swwmutiara mengatakan…
Sejak TK sampai SMU saya bersekolah di sekolah Katolik, dan selalu beranggapan bahwa teman yang minoritas pastilah dikirim orang tuanya ke sekolah Katolik karrena ingin mendapat pendidikan yang lebih disiplin dan mumpuni... Ternyata alasannya way more deeper than that. Wish You and Your kids all the bless Mommy... Gbu.
Unknown mengatakan…
Sy sgt setuju dgn pemikirannya. Kebetulan sy muslim dan anak sy pun muslim dan skrg bersekolah di bpk penabur.

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon