Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Perhiasan pada anak

Gambar
Perhiasan pada Anak
Banyak orang yang bertanya, kenapa kami tidak memakaikan perhiasan pada anak. Kalung, gelang, anting-anting, cincin, gelang kaki. Lucu sekali ya. Padahal mereka tau, kami mampu untuk itu. 
Alasan keamanan. Udah berapa banyak cerita di luar sana mengenai anak yang "dibawa" orang yang tak dikenal lalu di turunkan ditengah jalan setelah perhiasan / benda berharganya diambil. Iya, klo anaknya balik. Klo anaknya dijadiin pengamen ? Diambil organnya ? Mit amit...
Kakak-kakak perempuan Hanim hanya memakai anting. Seperti yang Mama lakukan terhadap saya dan kedua kakak perempuan. Toh, ketika dewasa, kami bekerja dan membelinya sendiri. Sedangkan Hanim, ditindik aja belum. Biar dia yang memutuskan kelak. Tubuhnya, haknya. 
Tapi, sebagai Ibu mereka, Saya pastikan anak-anak mendapat akses pendidikan terbaik, Gizi yang lebih dari cukup dan Asuransi jiwa, kesehatan sekaligus pendidikan yang dapat menjamin mereka tetap mendapat hidup layak dan sekolah ada atau tidak ada or…

Si Miskin sang Tertuduh

Si miskin sang tertuduh 1
Pasca banjir, isi rumah porak poranda. Lumpur dimana-mana. Suami sudah harus praktek. Jadwal operasi dan pasiennya menunggu. Mama tidak bisa diandalkan. Nisa, kk, mas dan kedua budenya Hanim Kami bahu membahu membersihkan rumah. Bingung mau ngerjain apa dulu. Karena semua kotor 😞 
Nis memutuskan untuk melobi para pemulung yang biasa memarkirkan gerobaknya di bawah pohon di dekat rumah kami, ditemani kk. Mereka baru aja sampai waktu nkami menghampiri, terbukti, gerobaknya masih kosong. Nis mengawalinya dengan berbasa basi mengenai banjir. Seorang Ibu memakai penutup kepala menjuntai panjaaaaang mengendarai motor dengan anak laki-laki membonceng di depan, mendatangi kami.
"Heh, kabel gua mana ?" Hardiknya
"Kabel apa, Bu?" Tanya salah satu dari pemulung itu heran
"Alah udah deh, enggak usah belagak bloon. Klo apa-apa ilang juga pasti tukang rongsong yang ngambil" jawabnya kasar
"Bu, ini gerobak saya. Pereksa aja" kata yang lain

Pandai Menghakimi Oranglain

Ada kenalan gue, memutuskan meninggalkan islam.  Apapun alasannya, gue merasa enggak punya cukup alasan buat membenci dia. Gue tetap tegur dia dengan manis pas ketemu (nomornya ilang pas gue ganti hp kemaren). Apa reaksinya ? DIA NANGIS DEKAP GUE. Dia bilang, banyak banget yang menghamiki dia dengan pilihannya sekarang. Konon katanya, macam-macam reaksinya. Gue sedih dan tersakiti denger itu. 
Gue enggak abis pikir sama orang yang merasa merasa berhak menghakimi oranglain karena keputusan hidupnya. Tanpa pernah bertanya, cuma katanya ?
* Gue pernah / sedang ada diposisi itu. 
Karena Gue singel mom dan banyak kekurangan, menerima lamaran Papinya Hanim (kenapa gue yang dilamar ? Bukan elu atau temen elu ???) coba tanya papinya hanim, kenapa dia mau sama gue?  Gue dilamar baik-baik ke nyokap, enggak pake ganggu rumah tangga aka menyakiti perempuan lain, apalagi ngerebut laki orang! Klo yang nanya baik-baik masih gue hargai. Tapi banyak loh yang masih menguliti kami dibelakang.  Orang yang mera…

Orang Indramayu

Oooh orang INDAMAYU, kemudian menyerigai sinis. 
Karena Indramayu terkenal asal pelacur, asal banyak buruh kasar, banyak janda muda karena tingginya pernikahan usia muda, daerah miskin dipantura dengan indikator buruk. 
Saya tidak memungkiri itu.  Tapi jangan lupa, Indramayu itu luas.  FYI. Keluarga besar saya tidak ada satupun yang menjadi pelacur, mata pencahariannya rata-rata pedagang. Seperti Ibu saya - yang berasal dari sebuah desa di Indramayu (Bapak saya tidak) Mereka menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah bagus diseantro negri.  Kami tidak kaya. Tapi sekolah dapat mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, memperhalus perasaan dan memutuskan mata rantai kemiskinan.