Pandai Menghakimi Oranglain

Ada kenalan gue, memutuskan meninggalkan islam.  Apapun alasannya, gue merasa enggak punya cukup alasan buat membenci dia. Gue tetap tegur dia dengan manis pas ketemu (nomornya ilang pas gue ganti hp kemaren). Apa reaksinya ? DIA NANGIS DEKAP GUE. Dia bilang, banyak banget yang menghamiki dia dengan pilihannya sekarang. Konon katanya, macam-macam reaksinya.
Gue sedih dan tersakiti denger itu. 

Gue enggak abis pikir sama orang yang merasa merasa berhak menghakimi oranglain karena keputusan hidupnya. Tanpa pernah bertanya, cuma katanya ?

*
Gue pernah / sedang ada diposisi itu. 

Karena Gue singel mom dan banyak kekurangan, menerima lamaran Papinya Hanim (kenapa gue yang dilamar ? Bukan elu atau temen elu ???) coba tanya papinya hanim, kenapa dia mau sama gue?  Gue dilamar baik-baik ke nyokap, enggak pake ganggu rumah tangga aka menyakiti perempuan lain, apalagi ngerebut laki orang!
Klo yang nanya baik-baik masih gue hargai. Tapi banyak loh yang masih menguliti kami dibelakang.  Orang yang merasa deket sama Papinya Hanim (merasa doang, padahal bukan siapa-siapa) kayak merasa berhak banget buat sengat sengot (ini bahasa indramayu yang artinya pasang tampang jutek ke gue). Helow, situ kenapah ?!

Faktanya, Kami beda dalam banyak hal tapi satu dalam cinta. Kami saling membahagiakan...

0 Komentar