Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengalaman buruk di Imah Seniman dan Dago Bakery Punclut

Liburan dan Argumen

Dari rumah jam 7 pagi perjalanan lancar sampai Lembang jam 10, kami tidak mampir ke rest area dan tidak berbekal surat keterangan bebas covid. Tidak juga ada yang stop mobil kami. 

Sambil menunggu waktu chek in jam 14, kami mampir ke Kebun binatang Lembang. Waktu kami datang, kebun binatangnya masih sepi. Kami di sana sampai jam 12 karena sudah banyak pengunjung, lalu makan siang dan pergi ke Hotel. 

Sesampainya di Hotel, ternyata 2 kamar yang ku pesan letaknya berjauhan, harus nambah 100 ribu/ malam/ kamar supaya bisa deketan. Kamar pertama untuk aku dan papinya Hanim dan kamar lain untuk Fara, Hanim dan Pengasuh. Kamar ku dan Papinya Hanim memiliki view danau dan dekat dengan air terjun, kondisinya; colokan rusak, tv tidak ada channelnya dan telp tidak berfungsi. Pihak hotel meminta kami bersabar. Teknisi bolak balik ke kamar melakukan perbaiki. Horor! Ditengah pandemi begini...enggak lucu klo sampe kena covid karena paparan si teknisi. Pupus harapan kami buat mandi dan istirahat. Aku marah karena diberikan kamar rusak. Ditemani Papinya Hanim, aku mendamprat manajer hotel di lobby, dihadapan tamu-tamu yang hendak chek in. Silahkan mereka memperbaiki ini itu, tapi kami minta ganti kamar. Permintaan kami terkabul jam 15.30. Kali ini kami menempati kamar di depan kamar anak-anak. Overall bagus, tapi tekanan air kamar mandi kecil. Kamar anak-anak bukannya tanpa masalah, air panas dan dingin tidak bisa diatur otomatis.

*
Malam terakhir di Lembang, Papinya Hanim ngajak hangout. Kami memilih sebuah tempat kongkow yang lagi hits di bilangan Punclut bernama Dago Bakery. Kafe instagramable itu terdiri dari 4 lantai dengan view kota Bandung di malam hari. 

Di pintu masuk, kami diharuskan membeli tiket masuk seharga 20 rb/ orang. Penjaga tiketnya cuma bilang, tiket bisa diuangkan lagi saat kami meninggalkan kafe. Di sana, kami duduk sekitar 2 jam. Hampir 250 ribu biaya makan dan minum kami. Cukup murahlah. Menjelang pulang, saat hendak menukarkan tiket di kasir tempat masuk kafe, bukan di tempat kami beli tiket tadi, kasirnya bilang bahwa kami tidak bisa mendapatkan uang kami kembali. Uang bisa ditukar dengan makanan atau souvenir berupa kaos atau cangkir minum. Berbeda dengan disampaikan diawal tadi. 

Manajer kafe mendatangi kami, berusaha menengahi dengan memanggil staf tiket yang melayani kami diawal tadi. Aku menoleh ke arah papinya Hanim meminta konfirmasi, Papinya Hanim yang mengerti maksudku, dia mengangguk. Staf tiket itu berkelit, manajer juga yakin bahwa hal itu semestinya disampaikan diawal. Sambil keukeh bilang sudah menjadi peraturan bahwa tiket tidak bisa kembali uang. 

Waktu itu, Kafe menjelang tutup. Banyak juga yang ingin menukarkan tiketnya. Aku bicara dengan nada tinggi "Begini cara kalian berbisnis ? Ini bukan masalah 40 ribu ya, enggak ada artinya uang segitu buat saya. saya bayar makan minum tadi hampir 250. Etika kalian buruk sekali. Bukan cuma saya loh yang bertransaksi tadi. Suami saya ada di samping saya. Kami tidak tuli. Kami merasa ditipu, mbak. Kami udah kenyang, tidak perlu makanan lagi. Kami juga tidak emrasa butuh beli souvenir!" Otomatis kami menjadi pusat perhatian. Manajer tadi buru-buru memberikan 2 lembar uang 20 ribu pada kami. 

**

Banyak objek wisata bagus dan kuliner nikmat khas Indonesia di negara kita. Tanpa dibarengi dengan etika bisnis, bawaannya pengen curang aja...pengen nipu...kita lemah dalam hal pemeliharaan sarana dan pra sarana serta konsistensi terhadap rasa. 

Belum lagi sakit hati didiskriminasi bangsa sendiri. Padahal, tidak ada jaminan klo orang Indonesia tidK lebih berduit dibandingkan orang asing.


Posting Komentar untuk "Pengalaman buruk di Imah Seniman dan Dago Bakery Punclut"

Berlangganan via Email