Jangan curang !

Temen gue yang belum lama ditinggal meninggal oleh suaminya secara mendadak (tidak sakit dan masih muda), bercerita bagaimana susahnya dia mengurus BPJS tenagakerja alm suaminya, bagaimana sikap keluarga alm suaminya yang menjual warisan alm tanpa sepengetahuan temen gue dan anak-anaknya- warisan itu seharusnya menjadi hak anak-anaknya, bagaimana orang-orang yang masih memiliki hutang pada alm suaminya bersikap acuh tak acuh *gue horor ngebayangin masih punya sangkutan sama orang yang udah ga ada di dunia* Temen gue dan anak-anaknya memilih diam. Padahal, hidup mereka tidak sejahtera. 

Gue jadi ingat bagaimana kami kenyang kehilangan hak. karena tidak punya Bapak. Sebenernya, Mama bisa fight tapi dia memilih menghadapi semuanya sendiri, menelan semuanya bulat-bulat dan berdialog dengan kami. 

Gue saksi mama melewatkan malam-malamnya dengan menenggelamkan tangis pada sujud panjangnya. Gue merasakan kerjakeras mama supaya kami bisa sekolah dan hidup layak. Gue tau, bagaimana mama merajam egonya sebagai perempuan dan mencukup-cukupkan diri (bodohnya, gue dulu percaya setiap mama bilang "makan aja. Mama udah kenyang"). Diskusi kami dari waktu ke waktu menghasilkan rasa tau diri, semangat belajar untuk memutus mata rantai kemiskinan, jiwa tahan banting, logika yang terasah, empati yang tinggi dan hati yang terus merendah. 

Mama tidak memiliki hutang budi pada siapapun. 
Pada titik ini, kami tidak perlu lagi menghitung berapa banyak hak kami yang diambil orang. Silahkan makan sampe kenyang. Tuhan sudah menggantinya dengan keberuntungan hidup anak-anak mama, dengan otak kami yang cemerlang, dengan kesehatan dan dengan kemudahan dalam tiap urusan kami. Yang secara matematis, anak-anak mama enggak mungkin bisa dapat. Tapi Tuhan maha baik buat anak-anak mama. 

Toh, Orang-orang yang mencurangi kami, hari ini hidupnya tidak lebih baik. Catet ya, tidak lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Percobaan Telur Melayang di Air Garam

Pengalaman Kursus Matematika Kumon