Ngunjung

Ngujung

Setiap habis panen, di desa kami memiliki tradisi sedekah bumi. Yaitu dengan membawa makanan untuk dimakan bersama keluarga di makam keluarga. Orang desa umumnya dimakamkan di pemakaman desa. Sebagian makanan itu, ada yang dijadikan suguhan (persembahan untuk yang sudah meninggal). Aneka rupa makanan, buah, sayur ditinggalkan begitu saja diatas pusara. Lengkap dengan peralatan makannya. 
Tradisi sedekah bumi layaknya hajatan budaya, tempat dimana orang desa bertemu dan bersilahturrahmi. Dahulu kala diramaikan dengan hiburan wayang kulit semalam suntuk. 

Orang bertanya, Kenapa makam Emak sepi ? Tidak ada yang mengunjungi...padahal anak cucunya tergolong mampu melakukan itu. Nis menghela nafas berat. Sebagian orang memahami tradisi ini sebagai bhakti anak terhadap orangtua atau bhakti keturunan yang masih hidup pada leluhurnya. Hati-hati sekali nis menjawabnya. 

Emak adalah Ibu buat Nisa. Tak terhitung kebaikannya atas jasa emak merawat nisa. Tapi nis memilih membalas dengan cara yang lain. Yang berbeda dari tradisi itu, yang berbeda belum tentu salah, bukan ?

Nis memilih mendoakan emak pada tiap sujud panjang, membadalkan umrah dan haji emak, menghadiahkan sedekah di jalan Allah untuk Emak. Menurut nisa, memberi makan orang hidup - bersedekah pada yang hidup lebih berguna dan realistis. 

Maafin nisa yang belum bisa membalas budi baik emak, yang tidak bisa sepenuhnya berbhakti dengan jalan bertradisi, mak.

Senin pagi yang baper, 121020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon