Temen TK

Menjelang sore kemarin, bell di rumah kami berbunyi. Nis yang sedang di bawah membuka gerbang, ada kuncup teman TK sulung. Nis mempersilahkannya duduk di bangku teras sambil menunggu sulung turun dari kamarnya. 

"Kenapa enggak wa aja ?" Tanya sulung waktu menemuinya. 

"Hpku dijual" jawab kuncup sambil memberikan sebuah amplop yang langsung dimasukan kedalam saku celana setelah sulung menerimanya. Terkesan diam-diam. Mataku tak sengaja melihatnya saat mengantar teh botol kemasan. 

Ada pilu tiap nis berjumpa kuncup, Nis kenal ibunya sewaktu sama-sama mendaftar ke TK tidak jauh dari rumah. Ibunya seorang singel parent yang bekerja sebagai SPG toko swalayan. perempuan itu merantau dari tanah sebrang, tanpa pernah pulang dan memberi kabar pada sanak keluarganya. Karena dia malu telah hamil di luar nikah dirantau, tanpa restu. Sulung hanya 1 tahun di TK itu, lalu melanjutkan ke SD Islam Al Azhar. Tidak lagi ku jumpai Mama kuncup, ibu yang mengambil rapotnya mengatakan Mama kuncup meninggal beberapa bulan lalu karena kanker. Karena kasihan, kuncup diambil olehnya, tetangga sebelah rumah. Mama kuncup dan si ibu sama-sama mengontrak. Ibu itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga dari rumah ke rumah. Ini hal yang nis takutin selama jadi orangtua. Meninggal sebelum anak-anak dewasa, mandiri. 

Tadi pagi, sulung menghampiriku. Meminta uang jajannya. selama pendemi dan libur sekolah, anak-anak memang tidak lagi mendapat uang. biasanya sulung mendapat uang jajan satu bulan sekali. Sulung diam dan menundukan kepala ketika nis tanya buat apa. matanya berkaca-kaca. "Ya sudah, kakak mandi dulu ya, mau Online Goethe kan..." kataku. Dia manut. 

Sewaktu hendak mengantar uang saku ke kamarnya, nis melihat baju kotor di keranjang cucian. Ada sebuah kertas yang menyembul dari balik saku celana. Nis ambil dan baca "Tolong Aku, Tia. Ibuku sudah 2 bulan tidak bekerja. tidak ada lagi orang yang memperkerjakannya. Hpku sudah dijual untuk kami bertahan hidup bulan lalu. kami sudah tidak punya apa-apa lagi buat dimakan, pemilik kontrakan menyuruh kami pergi karena menunggak bayar..." nis menghentikan baca saat bell rumah kami berbunyi. Kakak masih di kamar mandi. 

Nis menyerahkan amplop ke tangan kuncup. Diam-diam seperti yang kuncup lakukan. Salam buat Ibumu, kataku lirih sebelum remaja bermata sayu itu pamit. Ingin sekali aku memeluknya 😞

Bekasi, 19 Juni 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon