Cerita perempuan

Gue lagi sedih. Setelah dikabarin sama temen baik klo Tantenya meninggal pada usia 43 tahun. Gue share cerita ini dengan persetujuan ybs. berharap, kita semua bisa belajar dari pengalaman ini. 

Ceritanya bermula dari persahabatan Tante dengan Kuncup. layaknya sahabat, Mereka saling mengunjungi. Tante kerapkali diantar pulang oleh Ayah Kuncup- jika hari sudah larut malam, sesuai permintaan Ibu Kuncup karena tidak tega melihat anak gadis sahabat anaknya pulang sendiri. Tante merupakan gadis yang baik dan cantik, berkulit bersih, hanya saja rasa percaya dirinya kurang karena berat badannya hampir 90 kg. 

Seiring berjalannya waktu, rupanya cinta bersemi dihati Ayah Kuncup dan Tante. hubungan itu ditentang habis oleh keluarga keduanya. tapi Tante sudah kadung hamil. Mereka kemudian menikah sirri. Ayah kuncup yang sudah pensiun dan berusia hampir 60 tahun, tidak bisa menghidupi kehidupan poligaminya dengan layak. Ayah kuncup meninggalkan Tante setelah putra pertama mereka lahir di tahun 2013.

Tante menghidupi diri dan putranya dari hasil menyewakan lantai dua rumahnya-hasil warisan orangtuanya- dan bekerja di salon. Tante mulai merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya. Setiap kena panas yang menyengat, Tante mengeluarkan darah dari hidungnya. darah segar banyak. Tante juga sering merasa pusing. 

3 tahunan tanpa ada kabar dan nafkah, Ayah Kuncup datang menengok Tante dan putranya. Tante berpikir, ini akan menjadi awal yang indah. hubungan badan yang mereka lakukan membuahkan seorang anak perempuan cantik yang lahir 2017. De Javu, setelah anak itu lahir, Ayah Kuncup kembali menghilang. 

Tidak lama setelah itu, Tante didiagnosa menderita Kanker Nasofaring. Atas dukungan keluarga besar, Tante menjalani banyak pengobatan, meminum banyak obat. Tubuhnya kurus kering. Tante merasa capek lahir batin. Frustasi. Kehilangan semangat hidup membuatnya menghentikan semua pengobatan. Dia pasrah. 

Suatu pagi, Tante terus memejamkan matanya. menolak makan dan minum. Sorenya, Dia tidak lagi memberi respon. Seiring mentari terbenam menjemput bulan, kesadarannya kian redup berganti suara ngorok dari tenggorokan. Saat mentari menyapanya keesokan hari, Tante telah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan putranya yang hendak masuk Sekolah Dasar, yang hanya menatap nanar jasad Ibunya tanpa berani mendekat. Sedangkan adiknya yang masih berusia 3 tahun, bermain riang bersama keluarga yang terus berdatangan. Dia belum mengerti, apa yang sebenarnya terjadi. Adapapun orang yang mereka panggil Bapak, hanya datang menengok selepas shalat subuh. Sekejap. tanpa nurani, dia pergi begitu saja. seperti yang sudah-sudah...

Semoga Tante mendapat tempat terbaik di sisi Allah.

Bukan tugas kita menghakimi oranglain, Bukan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon