Berita Bahagia dari Tahuna Sangir talaud, Berhasil Hamil dan Melahirkan Bayi Kembar 3 Hasil Bayi Tabung bersama dr. Indra NC Anwar, SP.OG di Morula IVF Jakarta (Setelah menanti selama 8 tahun pernikahan) by. Hellen Angraini Gandaria

Menginjak tahun ketujuh pernikahan kami tanpa anak, sudah terbayang banyak hal buruk yang akan kami berdua alami. Mungkin, seumur hidup tidak akan ada yang memanggil kami dengan sebutan manis Mama Papa, bahwa kami tidak akan memiliki generasi penerus,  ahli waris atau bahkan pernikahan kami bisa berakhir dengan perceraian. Jika emosi sendang merajai kami, seringkali aku memintanya meceraikan. Supaya dia bisa bertemu dengan perempuan lain yang bisa memberikannya buah hati. Biasanya, hanya angin yang akan menjawab kalimat itu. 

Awalnya, Kami berdua enjoy. Kami merasa masih muda. Kami menikah 29 Januari 2012 saat itu usia saya 29 tahun dan usia suami 28 tahun. Tapi seiring berjalannya waktu dan tidak juga ada anak yang hadir, Kami mulai menghadapi banyak ocehan orang. Bisa jadi mereka bersimpati, sekedar iseng bertanya atau berniat mengejek. Kami hanya sanggup memberikan senyum terbaik yang kami miliki. Tapi setelah kami di kamar, dimana hanya ada kami berdua, kami akan bersitegang. Saling menyalahkan dan menyakiti. Lama-lama, kami bosan. Harus ada solusi. Kami ingin anak. 

Maka, mulai hari itu, Kami mulai aktif bertanya sana sini. Mencari dokter ahli dibidang penyakit kandungan dan kesuburan yang dapat mewujudkan mimpi kami memiliki buah hati. Tahun 2014, dari Tahuna- Sangir talaud kami terbang ke Surabaya menemui seorang dokter yang banyak direkomendasikan. Setelah bertemu dengan beliau, Kami memutuskan tidak meneruskan program kehamilan kami. 

Kami mencari dokter lain. seorang dokter ahli di sebuah rumah sakit Pendidikan di Surabaya. Yang akhirnya melakukan inseminasi pertama kami di Kliniknya, tidak jauh dari kediaman iparku. Inseminasi pertama kami, gagal 
Kami mencoba inseminasi kedua dengan dokter yang sama. Dua minggu pasca insem, alat tes kehamilan tidak memberikan kabar baik. Tapi, setelah kami pulang ke Tahuna, seminggu setelahnya, Aku kembali melakukan pengecekan. Ternyata hasilnya positif. Kami senang bukan kepalang. Kami memeriksakan diri ke dokter kandungan di Tahuna. ternyata, diketahui bahwa kehamilannya ektopik (hamil anggur atau hamil di luar kandungan). Baik Dokter yang memeriksa maupun dokter kami di Surabaya menyarankan agar di kuret. tapi kami masih mempertahankannya. Berharap ada mukzijat dari Tuhan. Meskipun terjadi pendarahan terus menerus, kami mempertahankannya sampai 2-3 bulan. Karena takut akan resiko, kami akhirnya kembali ke Surabaya untuk menemui dokter yang menangani kami. Kami pikir, Beliau adalah orang yang paling tahu mengenai keadaan rahimku. Sesampainya di Surabaya, kami setuju untuk dilakukan laparoskopi untuk mengangkat janin kami sekaligus melakukan pemotongan tuba kiri. Setelah itu, Kami memutuskan untuk istirahat mungkin sekitar satu tahun-an. 

Inseminasi ketiga kami lakukan di Klinik yang sama di Surabaya. Hanya saja, kali ini dibawah supervisi dokter ahli yang lain. Aku kembali positif hamil. Lagi-lagi, Tuhan berkehendak lain. Janin itu tidak lagi berdetak jantungnya diusia 8 minggu  Dokter menyarankan untuk segera mengeluarkan janin itu dari rahimku. Kami memutuskan untuk kembali ke dokter yang sebelumnya. Hasil pemeriksaan, janin itu masih menempel pada dinding rahim. Meskipun dokter sudah memberikan obat yang dimasukan melalui vagina dengan tujuan dapat mengeluarkannya, janin itu masih bertahan di sana. Lagi-lagi kami berharap keajaiban. Aku tidak rela kehilangan dia. Aku terus menahannya hingga usia kehamilan 12 minggu. Setiap saat, Aku terus berdoa.  Dokter meresepkan tiga kali obat yang dimasukan melalui vagina itu. Pada obat terakhir yang Aku pakai tengah malam, Aku berdoa dititik pasrah. Aku bilang “Tuhan, kalau dia bukan milikku. Silahkan ambil. Jangan buat begini. Aku ikhlas. Aku percaya, Tuhan akan berikan yang lebih baik” lalu pergi tidur. Keesokan harinya, saya bangun dengan air ketuban dan darah membasahi tempat tidur. Suami sudah pulang ke Tahuna waktu itu, dia tidak bisa berlama-lama menemani di Surabaya karena harus mengurus usaha kami di sana. Diantar ipar, pagi-pagi sekali Aku menuju rumah sakit untuk tindakan. Hati ini rasanya sedih sekaligus lega. 

Di saat yang hampir bersamaan, adikku sedang program hamil di Morula IVF Jakarta. Dan berhasil. Adik ku menyarankan untuk kami memeriksakan diri ke Morula. Tapi Aku memutuskan untuk istirahat lagi. Lelah rasanya. Setelah dua tahun berlalu, Adik ku memberikan nomor telpon Morula. Aku kembali bergumul dalam doa. Berharap Tuhan menyertai dan memudahkan semuanya. Aku ingat waktu itu, dari Gudang, Aku menghubungi Morula. Yang merespon telponku waktu itu Ibu Yuni yang merupakan Tim Pemasaran Morula. Saat Ibu Yuni bertanya, Dokter siapa yang menjadi tujuanku ? Aku bilang, aku belum tau. Lalu Ibu Yuni dengan sabar mendengarkan semua cerita dan keluhanku. Ibu Yuni segera mengerti apa yang kami butuhkan. Ada peran besar Tuhan yang menggerakan hati Ibu Yuni. Ibu Yuni bilang, Saya akan merekomendasikan Ibu ke dr. Indra Nurzam Chalik Anwar, Sp. OG. Beliau Dokter paling senior di Morula, Cuma orangnya agak detail.  Aku langsung meng-iya-kan. 

Tanpa keluarga dan orang lain tahu (Kami malas ditanya-tanya) Di Bulan April 2019, Aku dan Suami berkunjung ke Dokter Indra. Kesan pertamanya, Kami nyaman sekali. Dokter Indra bukan hanya pendengar yang baik, beliau juga ramah dan tidak banyak bertanya. “Oh, ya udah. Yuk, kapan mau mulai programnya ?” seperti sedang haus kemudian minum air dingin ‘nyes’ banget rasanya. Hilang semua gundah gulana kami sebelumnya. Tapi kemudian aku mikir “segampang itu ? ini dokter senior loh katanya”. Oh iya, satu lagi yang kami ingat, Dokter Indra tidak memberikan janji dan saklek.

Kami tidak langsung program waktu itu. Kami menyiapkan mental, finansial, mengkondisikan waktu sedemikian rupa karena kami jauh dari Tahuna. Kami mengatur semuanya berdasarkan timelape yang diberikan dokter Indra, supaya tidak bolak-balik. Dokter Indra bilang Kami harus sudah di Jakarta pada hari pertama haid. Kemudian datang ke Morula pada hari kedua-ketiga haid dan langsung mulai program hamilnya. Itu kalau semua hasil pemeriksaan OK. Tapi kalau tidak, Kita harus tangani dulu masalah yang ditemukan. Agar upayanya bisa lebih maksimal hasilnya. Artinya, untuk bisa berhasil bayi tabung, kita harus betul-betul mencari tahu dimana akar masalahnya. Waktu itu saya bertanya “lalu suami saya gimana, dok ?” karena suamiku tidak bisa berlama-lama di Jakarta. Dia harus mencari nafkah di Tahuna. “Suami kamu hanya akan diambil spermanya. Yang penting kamunya. Rahimmu, sel telurmu” demikian jawaban dr. Indra. Waktu itu, kami hanya dibekali vitamin untuk kami minum sebelum kami melakukan program hamil. 

Pada bulan September 2019, Kami mulai program bayi tabung dengan dr. Indra. Waktu itu, Kami memutuskan untuk memberitahu adik yang merekomendasikan dan keluarga besar lainnya. Adikku langsung buka website Morula untuk mencari tahu siapa dokter Indra ? langsung Google mengenai kinerja dan pencapaian-pencapaian dokter Indra. Adik saya bilang, Dokter Indra merupakan dokter paling senior di Morula yang melalui tangan dinginnya telah lahir bayi tabung pertama di Morula tahun 1998. Aku bilang “Kami enggak tahu. Enggak liat trackrecord dan pengalamanya dia gimana”. Kami percaya, Dokter Indra memang diutus oleh Tuhan untuk menjadi berkat untuk Kami. Dan Ibu Yuni juga memberi rekomendasi atas penyertaan Tuhan di dalamnya. Belakangan, setelah dinyatakan positif hamil, Aku baru tertarik mencari tahu mengenai dokter Indra. Aku bersyukur sekali. 

Aku berhasil hamil dengan program bayi tabung di bawah supervise dokter Indra. Dari lima sel telur yang diperoleh, satu dibuang karena kualitasnya tidak bagus. Sisa empat, yang dua tidak bisa dibuahi, yang dimasukan hanya dua lainya, itupun kualitasnya Cuma good, bukan excellent. Alasan dokter Indra waktu itu, supaya peluang hamilnya lebih besar dan mengingat usiaku waktu itu sudah 37 tahun.  Saya sempat ragu “Dok, ini bakal jadi enggak ya, takut nih” lalu dokter Indra memberi jawaban “Itu semua tergantung dinding rahim kamu, kalau dia menempel di dinding rahim, akan terjadi kehamilan. Berdoalah. tugas kita cuma sampai memasukan embrio, sisanya biarkan tangan Tuhan yang bekerja” Kami senang sekali. apalagi waktu melakukan pengecekan BHCG kedua, hasilnya menyatakan bahwa kehamilanku KEMBAR. Aku pikir kembar dua karena yang dimasukan dua sel telur. Puji Tuhan, salah satu embrio membelah sehingga menjadi dua jani. Totalnya jadi ada tiga janin di rahimku. 

Sempat ada ketakutan di dalam hati, “jangan-jangan kehamilannya kayak kemarin”. Adik meminta untuk aku menjaga asupan makanan. Dia menasehati mengenai pantangan makanan yang diberitahu oleh dokter yang membantunya program hamil di Morula. Ada banyak sekali pantangan makan yang tidak diberitahu dokter Indra. Bertolak belakang dengan dokternya adik. Aku yang waktu itu masih malu-malu untuk menghubungi dokter Indra untuk tanya ini itu, akhirnya menghubungi Zuster Ega. Zuster Ega menjawab, “Ibu, Dokter Indra mah santai orangnya”. Dokter Indra pernah bilang supaya mengurangi Kopi, Teh dan Coklat. Untuk kesehatan, Aku turuti semua saran adik dan dokter Indra. 

Delapan minggu terlewati dengan baik. tanpa ada kendala. Aku sempat mengalami muntah hebat, tapi aku hadapi dengan sabar. Memasuki usia 7 bulan, Aku sempat mengalami pendarahan. Dokter Indra menyarankan untuk dsirawat di RSIA Bunda Jakarta. Setelah beberapa hari dirawat, Aku pulang ke Apartemen sewa tidak jauh dari RSIA. Semalam di Apartemen, besok paginya, berdarah lagi. Takut sekali, stress. Akhirnya Aku memutuskan untuk kembali dirawat di RSIA  hingga ketuban pecah pada minggu ke 34. Walau sempat berpikir mengenai biayanya yang pasti mahal. Tapi suami, mertua dan keluarga besar meyakinkan bahwa uang bisa dicari. Yang penting semua sehat. Supaya tidak menyesal dikemudian hari.

Puji Tuhan setelah 8 tahun menunggu, Pada hari Sabtu, 10 Mai 2020 lahirkah ketiga buah hati kami ; 
1.     Nathaniel Ivano Mogi  pada pukul 08.08 dengan berat 2.760 gram dan panjang 45 cm
2.     Nathania Ivana Mogi pada pukul 08.09 dengan berat 1.700 gram dan panjang 42 cm
3.     Nathalia Ivani Mogi pada pukul 08.10 dengan berat 1.840 gram dan panjang 43 cm


Jika cerita ini bisa menjadi berkat untuk orang lain, kenapa tidak kami bagikan. Saran kami, terus berusaha, jangan putus berdoa dan jangan terlalu berekspektasi terlalu tinggi.  

Seperti yang dituturkan Ibu Helena pada Nanisa. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon