Perempuan ini,  mengharamkan anak perempuannya menangis. Sadis ya?!

Suatu hari,  anak perempuannya nomor dua menangis. Lupa apa sebabnya. seketika,  tetangga-tetangga datang, menanyakan apa kami kelaparan? rupanya,  hal itu begitu menginjak hargadirinya sebagai ibu tunggal. Kami yang waktu itu masih kecil,  diajak bicara "enggak usah nangis. ngomong aja apa maunya,  butuh apa? klo ada,  mama kasih. klo enggak ada, mama usahain cari buat kalian" demi air matanya yang menetes waktu itu,  ketiga anak perempuannya bersumpah untuk manut. Dialog, diskusi terus terjadi hingga ketiga anaknya dewasa. perempuan ini selalu menepati janjinya,  tidak pernah mengecewakan "Mama sekarang belum punya uang,  nanti ya nagih dulu. abis bulan ya, sayang" ini kalimat yang dihafal anak perempuannya.

Walau tidak punya bapak, ketiga anak perempuannya tidak pernah berebut makanan,  baju atau apapun.  Perempuan ini membaginya dengan adil. Kadangkala,  dalam perjalanan hidup,  ada saja yang membuat air mata menetes. Lutut mencium aspal, putus cinta,  nilai jelek disekolah,  dikecewain temen,  enggak punya duit, menemui jalan buntu.  Tapi perempuan ini seolah tidak mau tau. TIDAK BOLEH ada airmata. Tidak boleh.  "Pake logika dan nalar mu. kepala bukan buat pajangan" katanya berkali-kali.

Maka,  ketiga anak perempuan itu,  tumbuh menjadi perempuan kuat dengan logika yang lebih "bermain" daripada perasaannya, yang tau apa maunya, yang menyimpan menikmati sendiri luka dan tangisnya. Punya, enggak punya,  diem. "Ceritain masalah kamu sama Mama aja, oranglain cuma akan bahagia saat kamu jatuh dan sedih saat kamu senang" sabdanya

... Perempuan itu,  Mamaku :)


0 Komentar