SOCIAL FREEZING for EEGS (Penyimpanan sel telur perempuan dalam keadaan beku atas indikasi sosial)

Aku terus menyusuri jalan dihadapku, yang terjal dan berliku. panasnya sinar matahari,  tak lagi kurasa. berharap dapat ku lupakan perasaan cinta yang masih membara pada Santan- lelaki terkasih yang sudah memacariku lima tahun belakangan ini.

Dari gemerlapnya Ibukota, aku menepi ke rumah masa kecilku. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri dan mencerna.  Apa yang sebenarnya tengah terjadi? Santan mengirimkan undangan pernikahannya dengan Kelapa sahabat ku,  hanya dua bulan setelah dia mengatakan "We need to take break". saat itu,  aku meng-iya-kan karena merasa hubungan kita yang sulit. Bukan aku lepas tangan, hanya saja,  aku merasa kasihan dengan Santan yang harus terus memperjuangkan aku dan hubungan kita yag tak kunjung mendapatkan restu dari kedua orangtuanya. Sahabat-sahabat dekat ku acapkali berseloroh "Cintanya elu tuh belum bisa bikin anak orang durhaka,  Pandan" yang biasanya hanya ku tanggapi dengan senyuman.



Aku dan Santan memiliki gap budaya yang tajam. Aku yang lahir ditengah keluarga seniman dengan latar belakang orangtua kawin campur,  membuat ku bisa lebih fleksibel dalam bicara maupun bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Tapi tidak demikian dengan Santan,  meskipun lahir dan besar di Barat,  Santan dibesarkan oleh kedua orangtua yang masih memegang teguh agama,  adat dan norma ketimuran. Orangtua Santan tidak bisa menerima masalaluku. Mereka berpikir aku tidak memenuhi bibit bobot dan bebet untuk menjadi bagian dari keluarganya yang terhormat.
Satu sisi,  aku bisa memaklumi sikap orangtua Santan. Orangtua manapun menginginkan yang terbaik untuk anaknya,  tapi di sisi lain... Batinku meronta. Naif kalau ku bilang aku merelakannya setelah lima tahun kita bersama membangun asa. Tapi kenapa harus dia yang merebut Santan? Dia yang menyediakan bahunya untuk ku menangis,  dia yang membantuku melewati masa-masa sulit itu,  dia yang membuatku optimis hingga dalam pasrah usahaku ada secercah harap bahwa Aku dan Santan dapat berdamai dengan keadaan.

Aku berada pada titik nadir seorang perempuan. cintaku malah hilang tak berbekas di usia ku yag menginjak ke 34 tahun. Berikutnya yang ku khawatirkan adalah kapan aku akan menikah?  dan kapan aku akan punya anak?



Aku teringat pelajaran Biologi yang ku dapat di SMA, Perempuan terlahir dengan jutaan sel telur di indung telurnya (ovarium). Pada saat dilahirkan, jumlah sel telur tersebut tinggal sekitar 300,000. Penghancuran sel telur terus terjadi sampai wanita mendapat haidnya yang pertama (menars), barulah sel telur dikeluarkan secara terkontrol pada saat haid  dan akan terus berlanjut  selama memasuki masa reproduksi pada usia 13 – 40 tahun yaitu masa wanita bisa hamil. Sehubungan dengan bertambahnya usia wanita,maka jumlah sel-sel telur dan kualitas sel-sel telur itu akan menurun (ovarian aging) sampai  wanita memasuki masa pramenopause pada usia 40 – 50 tahun yang ditandai dengan siklus haid yang mulai tidak teratur, maka saat itu, kemungkinan hamil sudah menurun. Jika sel telur yang tersisa di indung telur sudah habis maka masa itu disebut menopause,yang pasti akan terjadi pada semua wanita. Pada masa menopause, seorang wanita tidak mungkin bisa hamil lagi. Deg. Hal ini menjadi pukulan terberat berikutnya untukku.

Kemudian,  Aku memberanikan diri berkonsultasi dengan seorang dokter kandungan ahli fertilitas. Beliau menjelaskan mengenai siklus hidup wanita berdasarkan kemampuan reproduksinya. mulai dari lahir-masa balita-masa kanak-kanak- masa remaja—masa dewasa-masa perimenopause-masa menopause-masa senilis. Masih menurut beliau, Hanya pada masa dewasalah wanita punya kesempatan yang baik untuk hamil dan melahirkan. Semakin bertambah usia wanita semakin kecil peluangnya untuk bisa hamil dan semakin meningkatkan peluangnya untuk keguguran dan juga semakin besar peluangnya untuk terjadi kecacatan kromosom pada bayi Pendeknya masa reproduksi perempuan, membuat perempuan tidak memiliki pilihan yang banyak. Padahal dewasa ini, jaman menuntut perempuan untuk mapan, mandiri dan cerdas, sehingga bukan  hal aneh kalau wanita zaman sekarang banyak yang menunda untuk menikah dan memiliki anak. Atau bahkan tidak memiliki rencana untuk menikah ataupun memiliki anak sama sekali pada awalnya, who knows?  tetapi bisa berubah pikiran untuk menikah dan memiliki anak pada saat usia yang tidak ideal lagi.



Beliau menguatkan hatiku. Bahwa seharusnya Aku bersyukur Tuhan telah menggugurkan rencanaku. Bisa jadi,  itu cara Tuhan menyelamatkanku. Beliau juga mengatakan, agar aku tidak perlu risau. Teknologi memiliki jawaban atas permasalahanku dan perempuan-perempuan
muda dalam usia reproduksi yang ideal yang ingin memiliki anak namun belum memiliki pasangan / belum ingin menikah dalam waktu cepat.  Aku makin antusias mendengar penjelasan beliau. Katanya sekarang,  aku dapat mengambil sel telur dengan proses seperti pelaksanaan bayi tabung, yaitu dengan merangsang indung telur memakai obat hormone, jika sel telur yang tumbuh sudah matang,dilakukan pengambilan sel telur (Ovum pick up) lalu sel telur yang diperoleh disimpan beku (oocyte freezing) dan disimpan dalam incubator khusus di laboratorium suatu klinik fertilitas, jadi tidak dilakukan pembuahan langsung. Sel-sel telur yang disimpan dalam keadaan beku ini bisa bertahan di dalam incubator  dalam jangka waktu yang panjang dengan sejumlah biaya yang dibayarkan setiap tahun. Tentu aku mau!  Proses inilah yang disebut social freezing for eggs. Aku mengejanya pelan-pelan dalam hati.  Berusaha menjejalkan istilah baru itu dalam kepalaku. Kelak, Sel-sel telur milikku yang telah dibekukan ini bisa bertahan dalam keadaan baik untuk jangka waktu yang lama sesuai keinginan pasien.  Dan dapat dicairkan kembali kemudian dipertemukan dengan sel sperma (suami) untuk terjadinya pembuahan. Embrio yang berasal dari sel telur beku itu sesuai dengan permintaan pasien bisa di masukkan kembali ke dalam Rahim (ditransfer ke dalam Rahim). Namun untuk dilakukan proses pembuahan, dibutuhkan buku nikah sebagai syarat administrasi. Perlu diingat bahwa pengambilan sel telur disarankan  pada masa sebelum pramenopause.

Aku bertanya,  Apakah usia wanita tidak mempengaruhi proses kehamilan?  Karena aku tidak tahu kapan akan menikah.  Mungkin 5 atau 10 tahun lagi... Beliau menjelaskan, yang terpenting adalah sel telur yang diperoleh / disimpan pada saat perempuan tmasih berusia muda. Sehingga kemungkinan mendapat embrio yang normal lebih besar.

Lembah yang berwarna membentuk melekuk memelukku dalam sunyi dengan setitik asa. Bahwa Tuhan tengah merenda hidupku, bahwa suatu hari akan ada laki-laki yang merasa bersyukur memiliki aku sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya.

Bekasi menjelang 2 Agustus 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon