Nilai kehidupan

Makin kesini (baca: makin tua) nis jadi banyak mikir tentang "Nilai" apa yang di dapat? kayak makan,  yang enggak cuma kenyang.

Belum lama, kk minta nis bayarin  langanan (via kartu kredit) sebuah aplikasi belajar yang kk download di telepon pinternya. Nis tolak. Karena menurut nis,  selain buat mendapat jawaban instan dari soal yang kita ajukan,  terus apalagi? Apa sih bagusnya orang / aplikasi lain yang bisa jawab pertanyaan dari tugas yang sekolah bebankan pada kita? kita loh yang punya tugas... enggak "nancep" aja di otak. Emang klo ujian sekolah atau ujian hidup,  bisa dipake itu aplikasi?
Well,  mungkin nisa ortu yg ketinggalan jaman. Tapi menurut nis,  ga ada tuh instan yang enak selain indomie. itupun gizinya masih dipertanyakan. nis masih percaya dengan proses menempa diri dengan berlatih,  belajar dari kegagalan,  terus mencoba...

Klo dengan sekolah menjadi pinter dan punya ijazah,  udah biasakan... Nis mau dengan sekolah,  anak jadi manusia terdidik yang tau kewajiban dan haknya,  yang baik memanusiakan manusia lain.

Klo kursus matematika,  terus nilai matematikanya bagus,  juara lomba-lomba... Apa istimewanya? Nis mau dengan dia menguasai matematika,  logikanya terasah,  mandiri dan teliti.

Klo anak balita sekolah,  terus dia bisa baca tulis hitung memang dia sedang berada pada masa golden age. dimana semua bisa terserap dengan mudah. Nis mau, ada minat baca yang tumbuh lengkap dengan rasa ingin tau dan kemandirian sepanjang hayat.

Klo ada yang belajar bahasa dan budaya lain terus dia menguasai bahasa dan budaya yang dipelajarinya?  Hebatnya dimana? Klo apa yang dia pelajari itu tidak membuatnya menjadi lebih memahami dan bisa menerima perbedaan...

... Ini status orang kekenyangan lontong sayur padang, kamu bisa lanjutin value apa yang kamu dapat atau sedang berusaha kamu raih???

0 Komentar