Hubungan Kanker Nasofaring dengan Ikan Asin

Kemarin, Aku dan Uda makan malam dengan seorang teman lama di sebuah resto seafood. setelah tema utama selesai didiskusikan, kami mulai menanyakan kabar masing-masing.

Beliau bertutur bahwa baru saja menyelesaikan kemo terapi yang ke 6 dan dalam beberapa hari ke depan akan menjalani terapi sinar (radio terapi) untuk membunuh hingga ke akar kanker nasofaring stadium 3 yang sudah 1 tahun ini bersemayam dalam tubuhnya. Pria 54 tahun itu bercerita dengan tersenyum, bagaimana sakitnya menjalani kemoterapi. harus menginap selama 5 hari di rumah sakit setiap satu bulan. harus menghabiskan 6 ampul obat kemo yang efeknya membuat muntah. sampai sekarang, gangguan psikosomatis itu tetap ada. beliau akan muntah dan merasa kepalanya pusing jika mencium bau karbol khas rumah skit dan piring katering yang biasa digunakan untuk menghidangkan makan pada pasien.



Beliau menegaskan Tidak merokok. namun menjadi perokok pasif seumur hidupnya. seorang Prof Ahli THT  yang merawatnya menyampaikan kemungkinan kegemarannya beliau makan ikan asin (jambal dan peda) yang menjadi penyebab kanker nasofaring itu tumbuh dan melarang beliau memakannya lagi jika ingin sembuh. Masih menurut Prof Ahli THT tsb, kemungkinan pengolahan ikan asin yang menggunakan zat-zat kimia berbahaya yang menjadi faktor pencetusnya.

"Wah saya itu dulu, klo makan mesti ada ikan asjn walau sedikit. Nasi panas, sambel dadak, ikanasin sama pete itu bakal bikin makan saya lahap dan nambah terus" ucapnya riang.
Aku ngilu membayangkan bagaimana ikan asin menjadi menu andalan masyarakat menengah ke bawah. mereka memakannya dengan lahap. tanpa ada pilihan lain. tanpa disadari, mereka sedang memasukan racun mematikan kedalam tubuhnya :(
Ikan asin memang lezat. biasanya,  saya merendam ikan asin selama 60 menit agar formalinnya terlepas dari ikan dan terlarut ke air rendamannya. Level formalin akan berkurang sebanyak 61.25% bila ikan asin direndam dalam air biasa. Sebaiknya, perendaman ikan asin dilakukan di air garam karena dapat menghilangkan level formalin hingga 89.5%. tapi itu hanya mengurangi pengawetnya. bukan menghilangkan sama sekali :( 

Beliau terlihat lebih kurus, meski tetap ceria dan berulangkali menegaskan bahwa beliau tidak sakit - beliau menyetir sendiri dari Cileungsi ke Bekasi Kota. kami cemas mendengarnya. beliau meyakinkan "sudah biasa, demi ummat"

...Sehat selalu pak. semoga sakit ini menjadi peluas ladang amal mu. kata ku ketika kami berjabat tangan di lobi Bandar Djakarta menjelang pukul 21 tadi malam.

Pangrango, 16 Juni 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon