Aku bersyukur memilikinya, Tuhan...

Aku bersyukur memilikinya, Tuhan. Aku ga tau gimana jadinya, seandainya bukan Ia yang Engkau amanahkan padaku.

Aku bukan ibu yang baik. Aku tumbuh dan berproses menjadi dewasa bersama Ia. Ia yang jarang menangis, bahkan airmatanya jarang tumpah saat aku yang tempramen menghujamkan pukulan dan serentetan kalimat kasar padanya. Ia akan betul-betul menangis, klo Ia merasa sakit. Aku selaku menyesal dan meminta maaf ketika amarah itu usai. Ia selalu memaafkan ku.



Ia yang selalu mengerti setiap penjelasan ku atas kekurangan dan ketidakadilan yang menghampirinya. Anak itu betul-betul sabar. cendrung nurut. Tidak banyak pintanya. Tak pernah usai rasa bersalah ku jika mengingat keputusan-keputusan yang ku buat yang menaruhnya dalam situasi sulit. tapi Ia selalu menyediakan senyum yang hangat untuk ku. Menyiratkan bahwa semua baik-baik saja. padahal Ia sedang mengorbankan dirinya sedemikian rupa. Ia punya caranya sendiri menghadapi hal itu. Caranya bertahan. agar Ia bisa mengampuni, memaafkan dan melupakan.

Kecerdasan intelektualnya biasa saja. Tapi Ia anak yang tekun dan memiliki daya juang diatas rata-rata. Ia disiplin mengerjakan setiap tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Walau susah payah. Tidak banyak campur tangan kuselama 3 tahun Ia di Penabur. Ia mandiri.

Ia anak yang ramah dan tidak keberatan berbagi. Aku kagum dengan caranya berdabtasi dan memperlakukan orang lain, sopan tidak tinggi hati dan mau ertemandengan siapapun. Walau adik-adiknya bilang Ia kk yang galak, tapi diam-diam, mereka meneladani sosok kakak sulungnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Percobaan Telur Melayang di Air Garam

Pengalaman Kursus Matematika Kumon