Mak, Nisa Kangen...

Aku rindu pada tangan keriput yang membuatkan ku jamu setelah melahirkan yang pahit leder,  tanpa berani sedikitpun ku bantah. Ku kunci mulut ku rapat. Ku lenyapkan ilmu farmako dan farmakognosi dari kepala ku.

Padanya yang sibuk meminta ku meminum sesendok makan minyak sayur setiap hari mulai 7 bulan usia kehamilan ku.  Supaya gampang lahiran,  katanya. Siapa yang sanggup menolaknya? Jika tangan itu yang membuat minyaknya mulai dari kelapa yang dipetiknya dari kebun belakang rumah. Melewati proses penuh kesabaran,  dengan kompor pawon yang apinya berasal dari kayu bakar dan tiupan mulut?



Kedua tangan kasar pekerja keras itu yang membaluri perut post partus ku dengan parem yang berkhasiat membuat perut ku kembali seperti semula. Membebatnya kecang dengan kain bermeter-meter,  melapisnya dengan korset kencang hingga sesak nafas berbulan-bulan. Tanpa ampun.

Kedua tangan yang menyediakan sambel terasi dan aneka makanan tradisional yang tak pernah terganti kelezatannya,  saat ku melewati hiperemesis yang berat.

Kedua tangan yang tak pernah bosan menyematkan gunting dibaju ku saat hamil.

Maaaak Al Fatihaah untuk mu,  Nisa rindu.
Nisa hamil lagi, mak. Enggak ada lagi kasih setulus cinta mu pada ku.

0 Komentar