Engkau Bersama dengan Orang yang Engkau Cintai

Meninggalnya Bapak,  membuat ku merefleksikan hidup, berpikir tentang kehidupan setelah mati dan surga neraka.

Istri bapak,  bukan hanya ibu ku. Bapak menikah dengan ibu tiri yang melahirkan adik-adik tiri ku. Aku ga pernah bisa memahami kenapa bapak meninggalkan ibu dan kami?  Kenapa bapak memilih ibu tiri? Aku terus menghakimi bapak. Sampai bapak memenuhi  panggilan rabbnya. Disitu,  aku merasa lelah sekali. lelah menghakimi. Seandainya waktu bisa diputar, mugkin, aku akan bersikap sedikit dewasa. Menghargai pilihan bapak dan lebih banyak mendengar. Agar aku tidak seperti ini - kehilangan banyak momen bersama bapak.



Aku berharap,  Allah mempertemukan ku dengan Bapak ibu disurga nanti. Allah dapat mempersatukan kembali bapak ibu ku. Tapi bagaimana mungkin, sebelum meninggal bapak ku telah menikah lagi dengan ibu tiri dan mereka memiliki keluarga yang bahagia? Hal ini membuat ku marah (lagi) dan pikiran ku terus berkecamuk. Lalu,  aku melarikan segala duka lara ku dengan bersujud pajang. Mendengarkan jiwaku berkata-kata. dan membuka Quran serta hadist riwayat - yang Nabi ku amanahkan sebagai sumber jawaban segala tanya.


Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Engkau bersama dengan orang yang engkau cintai

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan dalam kitab al-Fath ,  “Maksudnya, dia akan dikumpulkan bersama mereka (orang dia dicintai) itu, sehingga dia menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang dicintai itu. Dengan pemahaman ini tertolaklah pemahaman sebagian orang yang mengatakan bahwa kedudukan mereka yaitu antara orang yang dicinta dan yang mencintai akan berbeda. Jika ini benar, bagaimana dikatakan ‘akan bersama’? Pertanyaan ini dijawab dengan : Kebersamaan itu bisa terwujud dengan adanya titik temu pada satu hal tertentu dan tidak mesti harus sama dalam semua hal. Jika mereka semua telah di masukkan ke surga berarti telah bersama-sama, meskipun derajat mereka di surga berbeda.

Tuhan tau,  betapa aku mencintai orangtua ku.  Terlepas dari apapun yang pernah terjadi diantara mereka. Bukan tugas ku sebagai anak,  sebagai manusia untuk meghalangi kebahagiaan orangtua ku apalagi sampai menhisab dosa yang orangtua ku lakukan.

Ku pasrahkan semua pada Tuhan. Surga adalah wewenangnya. Biar Tuhan yang sepenuhnya mengatur. Tugas ku adalah membahagiakan mama- orangtua ku yang tersisa (masih hidup), mendoakan bapak dan berusaha menjadi anak sholeha agar Tuhan berkenan mengumpulkan ku dengan orang-orang yang ku cintai.

... Ya Tuhan, aku tak sanggup berada di neraka mu. Meski aku tak pantas berada disurga mu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon