Aku tak mau menghabiskan waktu untuk membenci

TIRI

Hubungan bapak,  ibu, kakak dan adik tiri didalam budaya timur ini sunggahlah kompleks. karena menyangkut perasaan didalamnya,  sehingga kita merasa berhak untuk membenci sebelum mengenal orang yang menyandang gelar TIRI dan memahami duduk persoalannya.
Apa kabar klo hubungan baru itu terjadi diatas pernikahan yang sah? tentu lebih rumit lagi. sedangkan hubungan yang jelas-jelas terjadi setelah pasangan wafat (artinya tidak merebut) masih turut serta membawa prasangka dari keluarga almarhum, kecemburuan anak-anak dan nada sumbang lainnya.



Demikian juga aku yang secara tidak langsung diturunkan akan sentimen itu. Nenek ku memiliki saudara tiri,  demikian juga aku. Mungkin,  diperlakulan tidak adil atau kekhawatiran akan itu yang menjadi penyebabnya yamg kemudian berubah mejadi dendam... Rasa marah...

Tapi aku manusia terdidik,  Demikian luas jejak langkah ku meniti alam, telah banyak buku yang ku baca, kitab-kitab yang ku pelajari dan agama yang ku dengar dan ku jalani perintahnya. Maka,  ketika aku mengku intekeltual maka aku harus adil sejak dalam pikiran,  ketika aku mengklaim sebagai muslim aku harus memanusiakan manusia lain,  seperti aku ingin diperlakukan.

Aku memilih berdamai dengan diriku sendiri,  agar aku bisa memaafkan masa lalu dan orang lain. Aku memilih mengasihi dari pada membenci,  walaupun membenci sepertinya lebih mudah dan memuaskan. Karena bukan urusna ku menghamiki keputusan orang lain dan mewariskan dosa turunan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon