(Cerpen) Biarkan mereka bicara, cinta kita satu...

Dua dasawarsa lalu,  ada seorang mahasiswi indonesia yang tengah berjuang menimba ilmu dinegri hitler. Anak janda yang tidak kaya. Sebut saja,  namanya Pinang.

Pinang berangkat dengan beasiswa penuh pemerintah Jerman. Berbeda dengan teman-temannya,  yang hidup berlebihan dinegri orang karena memang orangtuanya mampu,  pinang menjalani hidupnya dg penuh rasa syukur. Acapkali,  pinang murung nemikirkan apa mama dan adik-adik ku sudah makan? Apa yang mereka makan disana? Apa adik-adik ku bisa melanjutkan sekolah?  Waktu itu indonesia dilanda krisis moneter. Setiap menyimak berita Asia,  enggak bisa tidur,  enggak enak makan. Pinang sadar sepenuhnya,  bahwa hal itu bisa menggangu konsentrasi belajarnya. Walau orang rumah selalu mengatakan hal-hal baik,  pinang tak sepenuhnya percaya. Dia melakukan sesuatu hal ekstrim. Dia mengirimkan sebagian besar uang beasiswanya kerumah. sekedar melenyapkan sedikit gundahnya.



Pinang mulai memutar otak, Dia membenamkan gengsinya sedemikian rupa,  dia rela menjual tenaga demi nafkah halal.  Salah satunya,  pinang bekerja disebuah kedai kopi yang memperkerjakannya paruh waktu. Tugasnya adalah membuka menutup kedai dan pembukuan (gelarnya Akuntan di Indonesia),  dengan tenaga sisa dia bekerja,  demi bertahan hidup,  demi mimpi-mimpinya. Hidupnya sederhana. Yang penting perut kenyang. Tak ada cerita menikmati eropa atau nongki-nongki cantik. semua teman-temannya menjauh. Tidak ada sakit hati,  pinang cukup tau diri.

Singkat cerita,  hampir setiap pagi,  pinang kedatangan pelangganan pertamanya. Seorang guru besar dikampusnya. Pinang menyapa dan melayaninya sebagaimana dia melayani pelanggan yang lain. Sopan santun ketimurannya dipakai. Pinang tidak pernah berani lebih dari itu. Suatu hari,  pinang membaca iklan lowongan kerja dikampusnya. Seorang dosen membutuhkan semacam assiten riset dengan fee menggiurkan yang mana lamarannya harus dikirim melaui pobox. Pinang yang waktu itu sedang menyusun disertasi,  bismillah mengirimkan lamaran itu. Walaupun disipilin ilmunya berbeda,  walaupun hati kecilnya berkata tidak mungkin.

Kabar baik yang dinanti akhirnya datang juga,  pinang merupakan salah satu  kandidat yang dipanggil untuk interview. Betapa kagetnya pinang,  ternyata,  usernya adalah si pelanggan pertama dikedai kopinya setiap pagi. Si guru besar juga kaget "kamu bukannya pelayan dikedai kopi itu?" jadilah interview itu isinya sebagian besar adalah hal-hal informal. Hanya dua pertanyaan yang mungkin terkait dengan interviewnya "kenapa saya harus memilih kamu" dan "kapan akan mulai bekerja?"

Qodratullah,  bila akhirnya kebersamaan itu menimbulkan benih-benih cinta. Walau terpaut hampir 20 tahun,  gadis dan duda berbeda ras,  agama,  negara dan strata ekonomi itu dipersatukan oleh Tuhan atas restu orangtua. Suami pinang adalah anak tunggal pemilik beberapa perusahaan chemical di Afrika dan Eropa. Pernikahan itu terjadi, Setelah sebelumnya,  pinang menyelesaikan program doktoralnya dan berkomitmen penuh untuk membantu biaya pendidikan adik-adiknya.  Saat ini,  mereka memiliki satu anak laki-laki remaja,  Pinang adalah seorang ibu dari anak lelaki remaja, bekerja sebagai peneliti ekonomi disebuah lembaga ekonomi terkemuka milik pemerintah. Berwarga negara Jerman.

Enggak dimana-mana ya,  orang dengan mulut berkaret dua itu ADA dan spesiesnya berasal daru beragam kalangan! Dari mulai pinang dekat sampai menikah dengan dengan sang guru besar putra jutawan itu,  banyak orang yang tidak suka. Entah bergunjing dibelakang, entah terbuka menyatakan sikapnya atau diam-diam menghasut keduanya. Eh,  si guru besarkan dulunya  punya affair sama ini waktu masih sama istrinya... Dulukan guru besar pernah tinggal serumah sama itu... Atau bilang ke guru besar klo pinang bukan perempuan baik-baik, pinang jual diri buat makan,  klo pinang cuma mau uang,  klo keluarga pinang hidup miskin di indonesia. orang hanya bersikap manis dengan dua tujuan. Kepo atau urusan minjem duit. Heloooo,  yes he is rich but i dont. I married him not his money!

SO WHAT???
Setiap orang punya masalalu. Pinang tidak peduli. Tapi masa depan sang guru besar miliknya. Pinang tidak pernah membantah semua ucapan orang yang disampaikan dan ditanyakan calon suaminya. Malah,  dengan senang hati, pinang mengajak putra jutawan itu berkenalan dengan mama dan adik-adiknya yang tinggal dirumah petak kontrakan pinggir sungai langganan banjir di ibu kota. Yang waktu pertama kali datang,  kepala putra jutawan menghantam kusen pintu depan rumah. "Ini keadaan kami. Mama menghidupi kami bertiga seorang diri. Kami berjuang untuk hidup dan sekolah. Karena itu,  saya belajar kenegara mu. Agar saya bisa memutus mata rantai kemiskinan keluarga ini" kata pinang lirih dalam bahasa inggris. Yang direspon pelukan hangat lelaki jerman itu untuk ibu pinang. Ada bulir bening yang mengalir dari mata putra jutawan itu. Saat itulah,  pinang dipinang.

"Tegakan kepala mu,  dek. Allah sedang merenda hidup kita. Ikhlasin aja. Lelaki ku dan lelaki mu tidak bodoh. Biarkan dia berpikir dan menimbang rasa. Kemudian memperjuangkan pilihannya. Sikap dan ucapan orang itu diluar kuasa kita manusia" kata pinang divideo call yang menghubungkan dunia dengan beda waktu 5 jam

... Bahwa setiap keberuntungan yang kamu terima,  ada doa orangtua mu yang didengar oleh Allah SWT


0 Komentar