Ibu yang rela melakukan apapun demi buah hatinya (cerpen)

Tersebutlah Pandan. Janda yang memilih membesarkan ketiga anak perempuannya daripada dimadu. sehari-hari, dia mejual tenaganya mencari nafkah halal. demi perut anaknya kenyang, demi anaknya berpakaian layak, demi anaknya terlindungi dari hujan dan terik, demi anaknya sekolah. sekolah, sesuatu hal yang dibenamkan sedemikian rupa kedalam benak anak-anaknya, agar kelak dapat memutus rantai kemiskinan.



Pakaian kebesarannya adalah celana pendek dan kaus oblong. digenggamnya sebuah kantong kresek berisi uang. uang receh yang selalu pandan bilang keanak-anaknya bahwa "satu juta uang orang, 10 ribu uang kita. klo haus kita pakai uang 10 ribu yg kita punya" kemanapun, dimanapun selalu begitu. kemana mana andalannya angkot. rambutnya tak pernah panjang. jangan pernah tanya tentang perawatan tubuh, untuk sekedar membeli baju aja, pandan harus berpikir seribu kali "Apa kebutuhan anak-anak sudah terpenuhi ?" tak pernah ada tas mahal, baju-baju bagus atau perhiasan mewah. semuanya sederhana. kesederhanaan yang membuatnya kenyang dihina dan dicaci. tapi pandan ibu yang baik. ibu yang selalu menepati janjinya. selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

"Belajar yang betul, nak. mama akan mengirim kalian sekolah kesekolah-sekolah terbaik dimanapun kalian mau" ucap pandan berulang kali. menyerupai doktrin. yang waktu itu terdengar klise. cendrung pahit. karena makan sehari 3x pun sudah mewah rasanya.

Rumah pandan hanya sebuah rumah petak bersewa murah berkamar satu. makanpun seadanya. seketemunya. yang penting kenyang. tapi pandan tak pernah main-main untuk urusan sekolah, membeli buku dan belajar. Krisis moneter waktu itu, dimana semua harga melambung tinggi. tidak terkecuali emas dan dolar. saat si sulung mengutarakan niatnya untuk mengambil pasca sarjana dinegri Hitler, dimana sitengah sedang skripsi dan si bungsu diterima di FK. anak-anak semua menunduk. siap berkorban satu sama lain.

...Lalu pandan mengajak anak-anaknya kedapur. membuka lemari usang dibawah kompor. meminta anak-anaknya untuk membantu mengeluarkan mangkuk-manguk berat tertimbun debu dan sarang laba-laba. setelah semua dikeluarkan...pandan membuka satu persatu tutup mangkuk-mangkuk itu. anak-anak masih saja tertunduk dalam. Logika mengatakan harus mengalah untuk saudaranya tapi hati berat, ingin sekolah.

dengan suara gemetar, panda mengatakan "lihat, nak. kiranya ini cukup untuk bekal kalian belajar" sambil menunjuk mangkuk-mangkuk yang terisi penuh perhiasan. dan sebuah kaleng biskuit bergambar keluarga dimeja makan terisi sesak oleh logam mulia beragam ukuran.

Tak perlu ada dikalahkan, kecuali pengorbanan pandan sebagai seorang ibu...


0 Komentar