Aku Pernah Jadi JANDA

Aku pernah jadi janda. Tidak mudah jadi janda diusia muda dan punya anak. Waktu itu, aku merasa Mama memperlakukan ku jauh lebih hati-hati dibandingkan waktu status ku gadis. Mama mengajak ku bicara dari hati ke hati sebagai sesama perempuan dewasa.

Menjadi ibu merupakan kontrak seumur hidup. dimana seorang perempuan harus berdiri tegar apapun yang terjadi dengan rumahtangganya. saat suaminya berpaling, saat maut menjemput belahan jiwanya...perempuan adalah ibu yang tetap harus terlihat bahagia dan ada untuk anaknya. ada secara fisik, mental maupun finansial.



Kebutuhan anak tidak bisa selesai hanya dengan mengatakan "Mama tidak punya uang, nak". Mama mewanti-wanti untuk saya memilah memilih siapa yang layak untuk menjadi pendamping saya. sedemikian buruk janda dalam persepsi masyarakat timur, bukan berarti bisa seenaknya "menerima". Mama berharap kematangan jiwa dan berpikir ku dipakai kali ini. karena jika salah lagi, anak yang akan dan selalu jadi korbannya.

Laki-laki yang akan hadir, dapat menentukan ada diposisi mana taraf kehidupan kita. yang berimbas langsung pada kehidupan anak. sekalipun kita bekerja. laki-laki berikutnya harus menyelesaikan perkara hati. artinya dia harus selesai dengan dirinya sendiri dulu. jangan sampai, laki-laki ini membuat kita galau dan pilu tak berkesudah sehingga tanpa sadar kehilangan masa-masa pertumbuhan anak yang tak akan pernah terulang kembali.

Aku percaya, penghargaan yang orang lain berikan berawal dari penghargaan terhadap diri sendiri. Percuma mulut berbusa-busa membela persamaan hak perempuan, klo kita mengamini stigma masyarakat dengan menerima cinta suami orang. dengan sadar !

Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki beristri yang bahkan dia berani mengkhianati janji sucinya dihadapan Allah ?

...komitmen ? bukan tidak mungkin, dia akan melakukan hal yang sama pada mu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon