Kisah Nyata PELAKOR ; Silahkan Ambil Bapak Ku !

Isu pelakor lagi rame ya, jadi pengen nulis tentang TERONG. konon kata ya, pelakor udah ada dari jaman sebelum para monyet ngerayain lebaranan. bedanya, jaman beheula, pada tau diri dan kagak ngelunjak minta di nyonyahin !

Terong ini dulunya laki berdarah biru sumatra, bapaknya keturunan arab dan ibunya asli tiongkok -bayangin rupanya kayak apa ? Ngaji pinter, usia belasan udah punya gelar Haji sekalian nuntut ilmu agama ama syekh di Saudi kolega Bokapnya, tahun 60 an akhir udah make yelow jacket, boilnya keluaran terbaru, sebagai anak saudagar duit tinggal minta ke bonyok, otak encer - walau pendiam dia gila pesta, konon klo liburan jalannya ke luar negri ngikut rombongan pesiar dagang bapaknya. Pulangnya bawa buku teks asli. Buku favoritnya adalah filsafat, sejarah, politik dan ekonomi. Setamat kuLiah, karirnya moncer disalah satu Kementrian.

Walau donjuan, pilihan hatinya jatuh kepada perempuan yang tergolong biasa. Bukan perempuan pesolek yang berasal dari kalangan hedon. Perempuan itu, sebut saja Jeruk. Seorang anak babu yang beruntung disekolahkan tinggi oleh orang Tionghoa majikan ibunya. Sarjana Penuh Ekonomi gelarnya. Perempuan kurus tinggi semampai nan cerdas, pembaca buku yang mandiri lagi plural. Terong percaya, bahwa Ibu yang cerdas akan mewariskan Intelektual dan didikan yang baik untuk para buah hatinya kelak. Sayang, rumahtangga mereka porak poranda terhempas badai di tengah samudra cinta. Saat Terong menikah lagi, Jeruk melanjutkan hidup dengan ketiga putrinya. kehidup yang sulit. Betul-betul sulit. Walau akhirnya Jeruk gila setelah kehilangan terong. kesulitan yang membentuk mereka "JADI". Jeruk yang memilih pisah daripada dimadu...

Terong tidak sanggup menolak permintaan orangtuanya untuk dinikahkan dengan perempuan yang berasal dari kalangannya. Bersama perempuan berdarah biru yang jelita namun tidak mampu Baca tulis dan berhitung. karena seumur hidupnya hanya diajarkan ilmu agama. sebagai istri, dia sangat pandai mengatur rumah, memasak dan patuh. Tidak seperti istrinya yang terdahulu. yang cerdas, suka protes dan mendelegasikan urusan domestik kepada asissten rumah tangga karena dia punya karir yang mapan disebuah Lembaga Tinggi Negara. Terong memiliki 3 anak laki-laki. Semuanya dikirim ke negri Kanggoroo. Si sulung menetap disana karena overdosis, ditengah mendapat ijabsah dan hanya si bungsu yang menyelesaikan sekolahnya walau terseok karena kenakalan remaja.

Terong menikah untuk ketiga kalinya dengan perempuan pilihan hatinya. Seorang wanita muda nan cantik yang ditemuinya di bar. Jangan tanya apa sekolahnya...Terong mengangkat drajat perempuan ini dengan menikahi dan menafkahinya dengan layak. perempuan ini memang memuaskan diranjang tapi selalu sibuk dengan perawatan dirinya, tidak pernah nyambung diajak bicara dan tidak pernah ada dirumah walau dia tidak tercatat bekerja diperusahaan manapun. Hal ini yang membuat Terong kembali ke istri keduanya. Entah kemana larinya peninggalan terong yang telah wafat. Yang jelas, untuk menafkahi dua buah hatinya, janda terong masih harus membanting tulang diusianya yang sudah tidak muda lagi untuk menyambung hidup dan menyekolahkan Kedua anak perempuannya. Mereka tidak kuliah. Alasan biaya dan ketidakmampuan berpikir (atau malas ?)

Masa depan, hidup dan mati sepenuhnya rahasia Allah. Akan tetapi....(silahkan isi sendiri hikmah apa yang teman-teman dapatkan dari kisah ini)

Jadi.... yang paling menentukan keberhasilan anak-anak terong tuh apa? Faktor genetik (konon kecerdasan anak dipengaruhi ibu daripasa ayah) ataukah pola asuh? Ataukah keduanya saling melengkapi dan menunjang?

Terimakasih sudah membaca cerita sampah ini.

0 Komentar