Tidak cukup nyinyir dan menghakimi

Sebagai anak bungsu,  waktu masih remaja,  nis pingin banget punya adik -sekarang sih udah bisa menerima dan mensyukuri keadaan.

Nis punya adik angkat,  kandar namanya. Seorang anak laki-laki kelas 1 SD yang tidak naik kelas beberapa tahun karena tidak kunjung bisa baca tulis dan acapkali berhenti sekolah karena permasalahan orangtuanya. Kandar -tetangga ku. Kami tinggal disebuah gang sempit di perkampungan kumuh ditengah ibu kota. Papa Kandar seorang residivis pencurian,  Mama kandar seorang buruh cuci yang menghidupi kandar dan adik-adiknya. Mereka masih menumpang dirumah orang tua mama kandar bersama adik mamanya yang juga telah berkeluarga. Tanpa seijin mama, beberapa kali,  aku menemani mama kandar yang tengah hamil menengok suaminya di LP Salemba. Penuh sesak disana sewaktu jam besuk. Kami harus berjalan kaki ke jati baru lalu berganti-ganti angkutan umum dari tanah abang ke salemba.  Harus antri dan memberikan "jatah" pada sipir penjara. Aku ingat,  aku dimintai tolong menjaga Kandar dan adik-adiknya yang masih kecil-kecil kala mereka masuk ke bilik cinta. Bergantian dengan para narapidana yang lain. Disana,  aku belajar bagaimana mirisnya hidup.

Beberapakali,  Kandar ketahuan mencuri. Baik Pencurian yang memang dia lakukan atau pencurian yang hanya dituduhkan padanya. Sebetulnya,  kandar anak baik dan penurut. Kandar tidak pernah menolak permintaan tolong yang ku ajukan padanya. Tidak pernah juga ada satupun barang digubug ku yang hilang diambil olehnya. Aku tak menggubris nasehat para tetangga yang meminta ku berhati-hati. Aku benci orang-orang itu. Yang mereka lakukan tak lebih dari bergunjing dan menghakimi keluarga itu. Tidak lebih. Ah,  tak ada juga yang bisa diambil dari gubug kami waktu itu...kami sama miskinnya.

"Aku lapar,  kak" katanya suatu hari saat orang-orang mengejarnya karena mencuri makanan dari pedagang dipasar. 

Dek,  apa kabar?
Kk kangen...

Jatipulo medeo 2000 an

0 Komentar