Saudara Dalam Kemanusiaan

Seisi lift menatap ku dan kk,  sudah biasa. Kami memutuskan untuk tersenyum.  Sepasang suami istri berserta putranya mengacungkan jempolnya saat kami keluar sudah sampai lantai 4.

Sesudah mengambil rapot,  saat pintu lift di lobby terbuka. Aku melihat suami istri itu tersenyum kearah ku. Mereka tidak hanya sendiri. Ada beberapa orangtua murid lainnya bersama anak-anak mereka.


Mereka menyapa ku ramah. 

"Boleh ngobrol sebentar,  bu?" tanya pak suami
"Boleh,  pak.  Ada yang bisa saya bantu?" jawab ku ramah -takikardi sebenernya *ada apa nih
"Ini anaknya bu?" tanya bu istri
"Iya bu,  kelas 8. Tiara namanya" jawab ku
"Kalau boleh, kami ingin tau,  alasan ibu memasukan putrinya ke sini?" tanya ibu yang lain

Aku menghela nafas dalam. Ada setangkup haru disana...

"Mohon maaf bu, Kalau ibu enggak mau jawab gpp kok bu. Kami penasaran karena diluar sana fenomena SARA memburuk,  bu" terang bapak yang lain

"Mama ku dulu dari Penabur juga,  om" jawab kk menengahi situasi

Jawaban ku kemudian menjadi diskusi hangat dikantin sekolah. Ditengah hujan angin yang mengguyur kawasan Bekasi,  kami mengharu bersama.

Mereka mempertanyakan banyak keharaman yang ditujukan untuk umat kristiani. Tak luput pula mereka menanyakan latar belakang, aktifitas, pendidikan dan pemahaman ku terhadap islam.

"Apapun yang terjadi,  Kalian selamanya saudara ku,  dalam kemanusiaan,  kawan!" tegas ku

...ku remas kain yang menutup kepala ku.

Sabtu basah,  161217

0 Komentar