Menghormati Orientasi Seksual Oranglain



Berjam-jam saya memandang nanar kedua data ini. Darurat,  sudah! Berulang kali pula dalam beberapa hari ini saya baca kegemasan seorang praktisi kesehatan yang menjadi viral di sosial media. Bisa dimengerti,  karena beliau bersentuhan langsung dengan kasus HIV/AIDS berikut infeksi penyerta dalam praktek sehari-hari. Tidak terbantahkan,  memang...



Walau sulit bagi saya untuk membedakan antara curahan hari personal dengan argumentasi seorang profesional. Sejatinya,  seorang penolong tersumpah harus bisa memanusiakan manusia. Tidak boleh sinis,  apalagi bias dalam memberikan pertolongan. Menurut saya,  Ketika kamu memiliki prasangka terhadap orang yang kamu tolong,  seketika itu pula,  kamu harus berhenti merawat orang yang membutuhkan pertolongan itu. Saya khawatir,  jika tenaga medis tidak bisa bersikap netral, maka otomatis para orang dengan resiko tinggi baik yang sudah terdiagnosa maupun belum akan ragu bahkan takut untuk mencari pertolongan. Maka, angka statistik yang bersebanding lurus dengan kenyataan akan makin tidak terkendali. Tindakan tolol adalah memperdebatkan masalah angka dan kapan survey itu diadakan. 

"Badan-badan gue, yang dosa juga gue,  terserah gue-lah" rasanya,  argumentasi itu terlalu egois dan penuh pembenaran jika disandingkan dengan nasib suatu bangsa. Karena tindakan individu sejatinya harus diiringi dengan tanggung jawab moral dan sosial. Sungguh tidak lucu,  kamu berteriak hak asasi ketika kamu sehat dan lari mencari pertolongan saat malaikat Izrail memaksa bertemu dengan mu. Kasarnya gini,  Lu tau lu "beda" main cantik donk (Betul. Setia,  pake kondom,  apalagi saudara-saudara...?!)

Bukan hak saya menghakimi sesama. Saya berusaha menerima kenyataan bahwa fenomena ini ada berikut dengan segala argumentasi dan opini pembenarannya. Sayamemilih untuk menghormati orientasi seks orang lain. Sambil saya belajar,  kalau-kalau orang yang saya sayangi menjadi bagian dari kelompok yang dianggap menyimpang. Saya tidak sanggup kalau harus mengusir darah daging karena pilihan hidupnya atau karena sesuatu yang sudah digariskan oleh sang maha segala. Mungkin,  saya akan memilih untuk menjadi teman terbaik. Yang membuatnya nyaman. agar dia dapat dengan mudah bangkit dan menerima saran serta edukasi. Yang harus digaris bawahi,  HIV/AIDS dapat mengancam siapapun yang melakukan hubungan sex dengan cara tidak aman. Jadi,  STOP segala bentuk diskriminasi,  intimidasi dan Arogansi.

Saya marah kalau data ini menjadi pembenaran atas aksi sepihak terhadap teman-teman yang dianggap menyimpang. Karena saya,  kamu,  kita dan orang-orang tersayang disadari atau tidak,  berada pada resiko tinggi. Mungkin Tuhan masih menyayangi kita,  masih berkenan menutupi semua aib-aib kita...

Kesempurnaan hanya milik Tuhan dan kesalahan sepenuhnya menjadi milik saya.

Hanya tulisan kegelisahan seorang Ibu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baiknya pelindung ku,  Tuhan...

0 Komentar