BUKAN Pembelaan terhadap PKI



Seperti kebanyakan anak bangsa yang lahir dan besar ditahun 80-90, saya begitu membenci dan mentabukan PKI. Efek pelajaran sejarah dan film wajib yang menjadi tugas dari sekolah setiap tahun - yang dapet tugas yang sama mana suaranyaaaaaaaaah??? Lol

Bertahun kemudian,  benci itu berbuah rasa penasaran yang tinggi. Dimulai dari pertanyaan "emang apa sih yang udah orang-orang ini lakuin sampe negara segitunya? " Mama saya menjawab rasa ingin tau saya dengan memberikan karya sastra Pramoedya Ananta Toer koleksinya.Tak akan pernah saya lupa, jika waktu libur tiba, kami bergandengan tangan disuatu siang yang terik di medeo 90 an, menyusuri raya Kwitang berkunjung ke lapak buku bekas langganan mama. Konon, mama sudah menjadi pelanggan tetapnya sejak kuliah di tahun 60 an.  Sejak itu saya makin menggila,  rela tidak jajan demi membeli buku apa saja yang menjadi buruan saya.

Kemudian, setelah saya punya uang sendiri,  saya memulai petualangan mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi camp pembuangan tahanan politik yang dicap komunis. Bukan tempat-tempat wisata legendaris.  Dimulai dari Sarongge di lereng Gunung Gede, Plantungan di Kendal sebagai pulau burunya para perempuan yang dicap Gerwani hingga ke pulau Buru yang asli di gugusan kepulauan Maluku - salahin tetralogi Pulau Burunya Pramoedya Ananta Toer yang menstimulan langkah saya menuju kesana. Disana,  saya bertemu ex tahanan politik dan keturunannya. Berinteraksi dan menginap di "istana" mereka. Karena umumnya ex camp itu bukan tempat wisata yang memiliki fasilitas memadai untuk turis.

Menyaksikan mata-mata tua itu menerawang jauh, bercucuran air mata...yang berakibat pada cap dan perlakuan buruk jangka panjang terhadap anak cucu. Keturunan ex tapol tidak lagi mendapatkan haknya sebagai manusia dan warga negara. Betapa zalimnya Dosa turunan itu. Interaksi itu,  membuat saya berpikir,  mereka juga manusia,  sama seperti saya. Bedanya,  tetua mereka tersangkut kasus politik. Baik yang disangkut-sangkutkan atau memang mereka bagian dari partai itu sendiri. Jika harus menyampaikan opini saya secara pribadi,  mohon maaf sekali,  saya harus bilang, mereka tidak seburuk yang saya kira atau sejarah ini tulis. Benar,  mereka telah bangkit, dibenak para paranoid dan opportunis.

Tulisan ini,  sama sekali bukan pembelaan terhadap suatu golongan,  hanya sebuah refleksi kemanusiaan. Berusaha melihat kebenaran dari sisi yang lain. Saran saya, Jika kamu tetap ingin berlaku seperti hakim,  jadilah hakim yang tetap memanusiakan manusia lain.




0 Komentar