Cerita Fabel : Bulubulu, Ayam yang baik

"Peran seekor ayam sebagai anak, paman,  adik, teman,  suami dan  bapak"

Hoho panjang yaa ini judul...lagi kepingin aja nulis cerita fabel ini karena tiap hari liat ayam dengan beragam menu penyajian di meja makan.  Anak-anak ku seolah enggak berselera makan klo enggak ada paha ayam bawah. Jadi setiap hari selalu ada ayam dan harus paha bawah.  Klo dada,  enggak disentuh :( Daging ayam itu kandungan proteinnya tinggi, sumber vitamin dan mineral penting, apalagi klo lagi flu terus makan sup ayam hangat.  Hmmm yummiii...

So,  no offense, please.  Janji?

Naaah,  Klo udh enggak baper,  aku mulai yaaa cerita ayamnya...

Dinegri ayam,  terdapatlah sebuah keluarga  yang terdiri dari bapak,  ibu,  tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan. Karena tingginya permintaan manusia akan bahan baku ayam,  maka keluarga ini kehilangan bapak dan satu anak laki-lakinya yang mana  Keduanya adalah kepala keluarga.  Satu anak laki-laki ayam yang lain dan anak perempuannya telah berkeluarga.  Maka,  tinggalah satu anak laki-laki ayam yang telah dewasa, ibu ayam dan dua keponakan yang ditinggal mangkat oleh induk semangnya.

Satu anak laki-laki ayam yang telah dewasa ini,   sebut aja bulubulu. Merupakan ayam jantan yang baik,  cerdas, jujur, bertanggung jawab dan bisa diandalkan.  Dia memilih menjadi tulang punggung keluarga ayam. Sungguh mulia hatinya. Suatu hari,  bulu-bulu bertemu dengan jodohnya.  Perempuan yang dicintainya. Yang bersedia menerima bulubulu sepaket dengan beban hidupnya. Mereka menikah. Seiring berjalannya waktu,  bertambah pula peranan bulu-bulu. Sebagai suami dan bapak.
Tidak kurang,  bulubulu menjalankan tugasnya sebagai suami dan bapak.  Dia melakukannya dengan baik. Suami yang bertanggung jawab dan bapak yang baik untuk anak-anaknya.

Namun,  tak ada yang sempurna memang didunia ini.  Terlebih jika ceritanya harus berbagi peran.  Memang harus selalu ada yang dikalahkan.  Atau dipaksa harus mengalah?

"Aku udh terlanjur janji dengan keponakan ku" ucap bulubulu suatu kali

"Kakak ku butuh itu.  Aku kasihan" kata bulubulu lain waktu

"Aku enggak bisa saklek dengan ibu ku.  Seperti kamu memperlakukan ibu mu" tegas bulubulu lagi

"Tunjangan ku hanya separuh.  Karena aku baru.  Aku harus menarik ucapan ku sama kamu untuk membelikan susu hamil.  Harganya memang tidak seberapa. Tapi aku harus mencukupkan kebutuhan rumah dan ibu ku lebih dulu" tandasnya di hari lain

Jangan tanya bagaimana kehidupan sehari-hari pasangan itu. Masa depan?  Hehehe sepertinya udah terlupakan.  Yang penting bisa idup aja deh buat hari itu.  Sepasang ayam itu lebih sibuk berkelahi tentang perasaan yang tak berkesudah.  Jangan lupa,  berbhakti pada orangtua itu wajib loh hukumnya dalam islam.  Jadi harus didahulukan. Istri mah gampang...kan udah tau ya dari awal? Aduh,  kudu gimana lagi ya jelasin ke kamu. Kamu Kudu ngerti donk.  Klo mau cukup,  ya kerja sana!

...tarik nafas dulu yuk,  hembuskan pelan-pelan.

Bulubulu juga seorang teman yang baik.  Yang sangat disayangi teman-temannya dari TK hingga perguruan tinggi.  Terlebih sewaktu menjadi mahasiswa dia adalah seorang aktivis kampus yang sibuk dikalangan perayaman.  Jangan tanya berapa jumlah temannya.

"Dua tahun ya,  aku sama kamu.  Aku seolah menarik diri dari pergaulan ku dengan sedama ayam.  Aku butuh kebebasan ku" pinta bulubulu terbenani.

Dear bulubulu,  engkau ayam yang baik. Keluarga dan teman-teman mu lebih butuh kamu.  Bahagia mu bersama mereka. Tak perlu susah lagi berbagi peran. Zalim bagi siapapun yang menghambat perjuangan mu membahagiakan  keluarga mu. Surga mu ada ditelapak kaki ibu.  Bukan istri. RIP (Q.S. al-Thalaq  (65) :  7)

Jadi, cukuplah sampai disini cerita itu.

Berjanjilah untuk bahagia :) ditengah perjuangan mu membahagiakan Ibu, keponakan, kakak dan teman-teman mu.

Semoga Allah memberi mu kesehatan,  rizki yang halal melimpah dan memudahlan semua urusan mu.

Hikmah dari cerita ini : besok ayamnya mau dimasak apa?

*harga sepasang paha ayam di pasar tradisonal kranji yang segar baru di potong dengan lafaz Allah sekitar 15 ribu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon