Sama Suami Orang

Tulisan ini adalah pengalaman saya sebagai janda. Janda adalah seorang perempuan yang cerai mati atau memutuskan berpisah dari suaminya. Predikat janda dalam budaya timur masih dipandang buruk. Berdoa aja ya, SEMOGA anak, kakak, adik atau orang-orang yang kami sayangi jangan sampe jadi janda. Karena janda bisa terjadi pada siapa aja. Enggak adil menghakimi seseorang karena keputusan yang diambilnya karena kita enggak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.


Walaupun Janda, Saya masih tetap tahan harga. Saya ilfeel sama lelaki yang lebih muda usianya dari saya-mungkin karena saya kehilangan figur bapak. Jadi lelaki yang usianya lebih tua lebih terlihat mempesona. Memang, usia hanya angka. Tapi harapannya usia bisa berdampak pada kedewasaan seseorang. Kedua, saya ogah sama laki pemalas dan TIDAK lebih cerdas dari saya. Bukan apa-apa ya, makan cinta itu masuk angin. Ye kali gue kenyang makan pensil alis. Dan bloon itu merusak keturunan. Ketiga, gue resisten sama LaKor alias Laki Orang. Nah, yang ketiga ini yang mau saya bahas. 

Yup! Saya pernah jalan sama laki orang. Ternyata, jalan sama suami orang itu, Tidak melulu Jandanya yang menggoda. Pada kasus saya, Laki orangnya yang nempel mulu. Yes, im Preety and limited edition *tsaaaah* Berawal dari curhat. Jadi nyaman. Dia bilang, istrinya jadi sosok yang "lain" setelah menikah. Istrinya sibuk dengan karir, merasa lebih karena punya penghasilan lebih dan terlalu independen. Dengan Saya yang manja dan pemuja, dia merasa dibutuhkan. Tapi Saya tau, apapun itu tidak lantas bisa dijadikan pembenaran dari sebuah perselingkuhan.  Rumah tangga ya masih baik-baik saya secara kasat mata. Tapi, Dia punya dua anak yang sangat mudah didekati. Anak-anak itu sepertinya rindu kasih sayang seorang ibu. Dia juga berusaha menjadi sosok Ayah untuk Anak Saya. 

Ketika Seorang laki-laki mencintai seorang wanita, harus segera dipikirkan akan diapakan cintanya itu. Akan dibiarkan menguap dan hilang, atau dibingkai dalam keabadian menjadi ikatan sakinah, mawaddah dan warrahmah. Saya mempertanyakan arti kenyamanan dan perhatian yang dia berikan ke saya diatas penderitaan perempuan lain. Saya tidak meminta dia memilih antara saya atau istrinya. Tapi saya minta dia bertanggung jawab akan semua kalimat dan sikap manisnya yang membuat hati saya yang tercuri diatas komitmen suci pernikahannya yang masih baik-baik saja itu. 

Saya berhenti berharap saat dia tetap bertutur tentang cinta dan memperlakukan saya seperti Ratu namun disisi lain dia bertahan dengan pernikahannya yang katanya sudah tidak bisa dipertahankan. Huft, Sendiri lebih baik, saat dirasa bertiga terlalu sesak. Saya menjauh perlahan...

Bukan, bukan karena didamprat istrinya. Istrinya justru menelpon saya minta ketemu setelah saya tidak ada hubungan lagi dengan suaminya. Saya menolak. Saya tidak tau dan tidak pernah mau tu tentang istrinya. Seharusnya dia tanya suaminya. 

Rupanya, kepergian saya membuatnya berpikir dalam. Hingga suatu hari dia datang membawa surat cerai sekaligus melamar saya. Senang ???? SAYA MENOLAK!

Kenapa ?

Karena udah ada yang baru yang lebih bagus. Ooops, maaf...Penjelasan logisnya gini, klo dia berani mempermainkan komitmennya dengan saya saat masih berstatus suami, tidak menutup kemungkinan dia akan mengkhianati sumpah pernikahannya (lagi) saya sudah dengan saya. Mungkin dia pengkhianat, tapi saya bukan sepenuhnya seorang penggoda. Yaaaaaa Iblis setengah bidadarilaaaah....

Cuuus, mulai diservis baek-baek deh tuh laki. Selingkuh itu bukan cuma salah janda, coba mulai ambil kaca deh. 

1 Komentar

Mei Wulandari mengatakan…
Sama2 intropeksi ya mb baik lakinya maupun perempuannya :)
Harus saling support jg biar gak pindah ke lain hati