Label Merah di UGD

 

Aku bergidik ngeri.

Dalam jagaku pertama kali di IGD triase label merah (label gawat darurat), dalam semalam ada yang meninggal 4 pasien. Aku melakukan resusitasi jantung paru entah berapa kali siklus.


Baru berganti pakaian jaga, label merah gaduh kedatangan pasien dengan syok berat. Pasien pertama, anak kecil perempuan usia 4 tahun, datang dengan kejang dan hilang kesadaran, Dari anamnesis keluarga, sang anak mengalami diare sejak seminggu yang lalu, ada riwayat penyakit kejang tapi tidak dibawa ke pelayanan kesehatan. Panasnya tak kunjung mereda lalu tiba-tiba kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Dari penampakan fisik anak terlihat malnutrisi dan dehidrasi, dipastikan syok hipovolemik melihat status vitalnya. Kami berusaha melakukan resusitasi cairan di semua pembuluh venanya. Sulit sekali mencari pembuluh baliknya, berkali-kali ditusukkan namun gagal. Anak kecil biasa saja sulit, apalagi ditambah malnutrisi dan dehidrasi. Diputuskan untuk dilakukan rehidrasi melalui infus intraosseous. Baru pertama kali aku melihat secara langsung bagaimana infus intraosseous dilakukan pada kedua tulang tibianya. Akhirnya dipasang intubasi untuk membantu pernapasan pasien.

Sungguh, aku sangat tidak menyukai aroma kesedihan. Apalagi jika mengetahui bahwa pasien ini adalah anak tunggal. Tapi, aku juga super gemas dengan keterlambatan sikap yang diambil keluarganya. Bisa dibilang, pasien seperti ini prognosisinya kurang baik. Apalagi jika sudah masuk ke syok stadium dekompensasi banyak kejadian yang disebut reperfussion syndrome. Pasien membaik sebentar lalu kondisi menurun karena organ-organ vital terlampaui batas dalam mengompensasikan homeostasisnya.

Ku lihat residen anestesi sudah melakukan edukasi sedari awal tentang prognosis pasien ini. Dan bagaimana agar dokter tetap berempati tapi tidak terbawa suasana haru-biru itu ternyata membutuhkan adaptasi. SIngkat cerita, dua jam setelah dilakukan resusitasi cairan, tiba-tiba tingkat pernapasan pasien ini menurun atau apnea. Ku cek bagian pupil matanya, pupilnya mengecil. Namanya pintball, salah satu tanda MBO (Mati Batang Otak). Dilakukan bagging untuk membantu pernafasannya. Sementara detak jantungnya semakin turun. Tekanan darahnya tidak bisa terdeteksi monitor lagi. Saturasi oksigennya menjad 65%. Ku lihat residen anestesi segera memanggil dan mengedukasi cepat keluarganya, menanyakan kesediaan resusitasi jantung paru sebagai pertolongan akhir pasien dengan segala risikonya. Ibunya menangis histeris, tapi keputusan harus segera diambil.

Akhirnya keluarganya setuju. Dilakukan RJP beberapa siklus tapi tak membuahkan hasil. Heart rate sudah mendatar. Akhirnya muncul defribilator sebagai bantuan akhir detak jantungnya. Dipasang mulai dari 50 joule, hingga meningkat. Residen sudah pasrah, kami diminta mengambil EKG untuk mengecek irama jantungnya. Hasilnya asystole. Si adik sudah tak ada di dunia. Ruang IGD menjadi gaduh dengan beberapa tangisan keluarga. Tapi kenyamanan pasien adalah utama.Masih ada pasien lain yang membutuhkan pelayanan terbaik.Tak ada lagi sempat berkicau, edukasi dengan keluarga yang ditinggalkan pun terbatas.

Pasien kedua laki-laki, usia 43 tahun, datang dengan serangan jantung tiba-tiba setelah makan malam. Mungkin Acute Coronaria Syndrome, tak sempat pemeriksaan penunjang karena waktu begitu cepat. Sesampainya di IGD, nadi pasien sudah sulit teraba. Nafasnya sudah mulai gasping. Dilakukan prosedur kegawatdaruratan. Prognosisnya pasien ini pun sepertinya buruk. setelah dilakukan resusitasi selama setengah jam dan tidak ada perbaikan, kami menawarkan kepada keluarga, apakah bersedia dilakukan RJP dengan kondisi pasien seperti ini. Keluarga menolak.

Dan ceritaku masih berlanjut hingga pukul 3 pagi dengan segala proses kegawatdaruratan. Pasien baru 4, pasien meninggal total 4, pasien tinggalan 2. Cukup membuatku termenung.

Mungkin terkadang kita terlalu fokus pada kebutuhan sendiri, termasuk diriku sebagai koas. Kita terlalu berupaya berusaha belajar sebanyak mungkin dari pasien.

Kita seolah fokus bahwa kepentingan kita yang paling prioritas. Kita belajar sebagai seorang calon dokter yang nantinya harus menyelamatkan jiwa dengan sebaik-baiknya. Salah sedikit, tuntutan siap menerkam.

tapi kita lupa.

Ada keluarga yang mengharapkan empati. Ada keluarga yang menunggui dengan cemas. Ada keluarga yang masih percaya dengan keajaiban. Ada keluarga yang masih mengupayakan doa-doa kesembuhan.

Salah satu konsultan Anestesi berkata kepada kami saat tutorial kemarin,

" Belajar kalian adalah seni, termasuk seni memenangkan hati keluarga pasien. Tidak mudah kehilangan orang yang disayangi. Tidak mudah menerima bahwa yang ditunggu telah pergi meninggalkan. Tidak mudah mengganti harapan menjadi kenyataan. Maka, Lakukanlah setiap tugas kita dengan seprofesional mungkin. Bahkan jika pun memang bukan kabar kesembuhan yang kita kabarkan, keluarga tetap berterima kasih karena sudah merawat dengan sebaik-baiknya.“

Mungkin ini yang dimaksud empati kognitif atau emosional, di mana tubuh kita merasakan resonansi yang sama dengan orang lain, entah kegembiraan atau kesedihan secara naluriah. Bahkan membuat kita mampu memobilisasi apa yang dibutuhkan. Tanpa komando, secara cepat, dan terasa hangat welas asihnya.

Bukan hal yang mudah dan tentu saja butuh jam terbang yang super tinggi untuk memahami seni ini. Dan semoga, semangat belajar kami semakin lurus diiringi ketulusan empati yang tak terbatas.


By ARH

Shared by anonim via medstories

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon