Anak-anak Pengamen

Konyol tuh gini...

Sambil nunggu anak selesai kumon, makan bakso dipinggir jalan. Makan dipinggir jalan itu-menurut saya, murah dan rasanya lebih enak daripada makan di restoran. Urusan rasa ini yg bikin bandel menerobos alarm higienis. Selain itu, Resiko makan di pinggir jalan adalah harus berhadapan sama pengamen yg datang silih berganti. Kasi senyum manis sambil membentangkan lima jari dan bilang maaf adalah hal yang biasa dilakukan. Tapi rasa iba acapkali bergelayut di dalam hati saat pengamennya seusia anak ku. Kurus, dekil dan mengiba :(

Saya berusaha sebisa mungkin tidak memberinya uang. Dengan berbagai macam alasan (Ingat, Saya pelit...hehehe). Seperti yang sudah-sudah, saya memilih mempersilahkan anak-anak itu duduk dan makan bersama. Rupanya, kali ini, pengamen kecil itu tidak sendiri. Dia mengajak juga teman-temannya, 9 orang. 

Jreng...jreng...jreng...jreng...
Tibalah waktu bayar. Saya ingat, di dompet cuma ada uang 5000 an dua. Panik! Pastinya...Mas, Atm dimana ? Tanyaku "ATM apa bu?" Apa aja "itu bu 100 meter kearah kanan" Mas, maaf. Uang saya ga cukup. Saya mau ke ATM dulu. 

Saya lihat tatapan curiga dimatanya yang sangat bisa dimengerti. Saya meletakan Iphone 6+ dimejanya sebelum saya pergi ke ATM, tanpa bicara.


0 Komentar