HATI-HATI dengan PENGEMUDI GOJEK INI !!! (Case Closed)


Saya naik gojek dari Komp Harapan Baru Kranji menuju Rumah Quran di daerah Galaxi. 

 



Dari pertama teleponan, memanyakan posisi feeling saya udh enggak enak. Nada bicara pengemudinya tinggi. Saat bertemu, raut mukanya masam. Karena lama mencari pengemudi, saya abaikan intiusi saya. Benar saja. Dia memicu motornya dengan kencang, sejumlah polisi tidur dihajar. Puncaknya, saat motor berada di perumahan duta kranji setelah kolong jembatan. Dia menabrakan kaki saya ke papan pedagang kaki lima. Papan itu berpaku tajam!

"Gimana sih nyetirnya? Hati-hati donk!" Kata saya kaget. 

Dia nengok, dan balik memaki saya sambil melotot. "Eh A***Gue ga sengaja. Gue enggak liat" 

"Enggak lit gimana sih, kamu nyetir?" Tanya daya ketus

"Eh M****Gue enggak buta. Lu yang buta" jawabnya tak kalah ketus

Bau alkohol yang menyengat dari mulutnya yang membuat saya memutuskan buru-buru turun. 
"Enggak usah dilanjutin aja deh mas" kata saya
Saya mulai merasakan sakit di kaki kiri. 
Saat saya pergi, Saya masih mendengar dia memaki saya dengan kasar. 

Saya sudah menelpon cs gojek. Kaki saya sakit, bengkak dan terkena paku. Tidak cukup hanya sekedar ucapan maaf. Say tegaskan, klo sampai lewat hari ini tidak ada itikad baik dari Gojek, Pengemudi dan Perusahaan ini berurusan secara hukum dengan saya. 

 

Bekasi, 20 Januari 2017

Balasan dari Gojek

 

 


Ini balasan saya

Dear Rico Purnama Sejati  (Perwakilan Gojek) YTH,

1. Tujuan saya bukan Mall Galaxi. Tujuan saya Rumah Quran Cikunir. Silahkan buka akun gojek saya sebelum Anda berargumen. 

2. TKP di Komp Duta Kranji Jalan Bougenvill lewat dikit dari kolong rel di pinggir sungai. Klo Anda kesana malam ini, disana ramai pasar malam. itu jalanan lurus dua arah. Enggak ada belok kanan. Silahkan cek di gps klo anda tidak percaya. Posisi kayu di sebelah kiri di pinggir jalan.

3. Klo saya dibilang marah, siapa yg ga ngamuk kakinya dihantamkan ke Kayu (dasaran pedagang kaki lima) ?

4. Saya turun atas inisiatif saya sendiri.  Pertimbangan saya, Dengan tangan tetap di stang, pengemudi menengok ke belakang. Saya masih duduk di kursi penumpang. Dengan posisi itu, wajah saya dan wajah saya menjadi begitu dekat. saya mencium bau alkohol yang menyengat. 
Perlu Anda tau, Saya bukan pemabuk. Tapi jangan lupa, saya juga bukan orang awam. 

Apa saya harus melanjutkan perjalanan saya saat saya merasa tidak aman ? Saya juga tidak mau turun ditengah jalan yang bahkan saat mengambil keputusan itu, saya enggak tau saya ada dimana. Saya tertatih jalan ke trotoar terdekat. Menangis disana dan bertanya keorang yang ada disana. Ini dimana, pak ? Ini dimana bu ? 

5. Tidak sengaja adalah kalimat mujarab buat cuci tangan, merupakan kalimat yang paling saya benci. Terus klo enggak sengaja, bisa selesai begitu saja ? Apa kabar kaki saya pak ? Apa kabar biaya pengobatannya ?

Sebenarnya, Saya cuma butuh kalimat maaf dari Pengemudi Anda saat ini terjadi. Andainya pengemudi Anda tidak arogan, saya tidak akan repot-repot membuat laporan ini. Saya juga punya hati, sama2 orang kecil. Enggak sampai hatilah saya meminta pertanggung jawaban dia untuk membiayai pengobatan saya.

Perlukah ini terjadi pada istri dan anak perempuan Anda dulu ? Agar Anda bisa sedikit berempati dan lebih selektif memilih mitra bestari ???

Mohon solusi yang lebih cerdas dan kongkrit. Urusan maaf dan ketemu itu gampang!

Nanisa

Bekasi, 22 Januari 2016

Saya menjadi pelanggan aplikasi gojek sudah sekitar 1,5 tahunan ini. Bahkan saya memutuskan berhenti berlangganan ojek konvensional dan mempercayakan gojek untuk mengantar 2 dari 3 anak saya berangkat menuju berbagai Les dan mengantarkan anak saya bersekolah di sekolah internasional di bilangan Kalimalang dan Harapan Indah. Senin hingga Sabtu. 

Setiap bulan, saya mengisi Saldo gopay 1-1,5 juta. Nyaris tidak pernah ada masalah sebelumnya. Pernah suatu kali, saya memesan Go Send, Saya bermaksud mengirim makanan kerumah Kakak. Lebih dari 70 ribu biaya antarnya. Pengemudi memberi laporan "Pickup" di apps tapi barang yang akan diantar tidak diambil dari rumah. Saya tidak menelepon pengemudi atau melaporkannya ke CS. Saya memilih mengorder pengemudi gojek yang lain sebagai solusinya. Sama-sama orang kecilah. Sama-sama cari makan. Kasihan...Jadi saya bukan konsumen yang rewel dan manja yang dikit-dikit ngadu.

Saya yakin, masih banyak pengemudi gojek diluar sana yang Baik hati dan betul-betul sepenuh hati bekerja untuk memberi nafkah halal kepada keluarganya. Para Pengemudi gojek selalu baik dan ramah. Terkadang, Saya membalasnya dengan mengajak beberapa dari mereka makan siang bersama saat saya diantarkan ketempat tujuan yang agak jauh. Ada beberapa pengemudi gojek yang berteman baik dengan anak-anak saya karena anak-anak memakai jasa mereka lebih dari satu kali. 

Saya ajarkan anak-anak saya untuk bersikap sebagaimana mereka ingin diperlakukan. Termasuk terhadap pengemudi gojek. Jangan lupa menyapa dan mengucapkan Terimakasih ya kak, mas. Jangan buat gojeknya menunggu. Tidak sopan. 

Mohon dimengerti jika kali ini saya memilih bersikap tegas. Terlepas dari Oknum pengemudinya mabuk atau tidak, disengaja atau tidak, Faktanya Ada luka di anggota tubuh saya (saya sangat mencintai diri saya sendiri, melebihi apapun). Luka yang fotonya diminta oleh orang-orang yang mengaku supir gojek melalui inbox fb saya. Perlukah saya bicara ke  satu persatu orang yang tidak saya kenal ? Apa setelah tau seberapa parah lukanya kalian akan membiayai perawatannya ??? 

Perlu diketahui ya, 

1. Saya bukan pengangguran yang dengan sengaja dan tak punya hati membuat berita Hoax untuk menjatuhkan orang lain. 

2. Oknum Pengemudi itu hingga detik ini tidak menghubungi saya sama sekali. Untuk Sekedar meminta maaf atau basa basi menawarkan pengobatan. Entah karena dia merasa tidak bersalah atau merasa paling benar. 

Saya tidak merasa bangga dan bahagia membicarakan apa yang saya alami di media sosial. Saya berharap, baik Oknum Pengemudi, Gojek, saya sendiri maupun para pembaca dapat mengambil hikmah dari peristiwa yang saya alami. 

"Oknum Pengemudinya sudah di Suspend Bu sama Gojek" "

"Oknum Pengemudinya mendapat telepon dari banyak orang karena Ibu mencantumkan nomer teleponnya di keluhan sosmed" 

Info-Info ini Saya dapat dari seseorang yang dapat dipercaya. Saya turut menyesal. Tapi setiap sikap dan perilaku pasti ada resiko bukan ? Apalagi untuk penjual jasa. 

 

Up Date 4 Gojek - Case Closed

1. Hingga tulisan ini dirilis, oknum pengemudi tidak menghubungi saya.

2. Kabar yang saya dengar dari Gojek, oknum pengemudi tidak bermitra lagi dengan Gojek. 

3. Gojek Indonesia telah beritikad baik menyampaikan permohonan maaf dan telah membayar penggantian biaya pengobatan sebesar maks 5 juta rupiah. Enggak pake ribet dan proses cepat (hanya butuh waktu 6 hari kerja dari 14 hari kerja yg dijanjikan).

Terimakasih atas segenap dukungan moril dan "bagikan" serta doanya. Kalimat-kalimat positif yang saya terima dari teman-teman di sosmed baik yang saya kenal maupun tidak, terasa sangat menguatkan. 

Pada banyak hal, saya akui. Sosmed berperan penting untuk menekan penyedia jasa untuk bertanggung jawab secara morul dan materil. Untuk kasus saya, luka di salah satu tubuh saya mungkin tidak separah rasa kecewa dan sakit hati yang saya rasakan sebagai konsumen setia. 

 

Pesan moral ; bagi penyedia jasa, konsumen adalah raja. Jika konsumen kecewa, marah, rewel dsb. Berikan dulu kalimat "Maaf" dengan sangat rendah hati. Memang maaf tidak menyelesaikan masalah. Tapi maaf adalah kalimat pendek nan sederhana yang dapat menunjukan kita beritikad baik dan kita adalah pelayanan yang sedang berusaha memberikan pelayanan yang baik juga.

Semoga bermanfaat

Bekasi, 2-2-2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Kursus Matematika Kumon