Islam Doesnt Only Belong to Your Way !

Saya tidak pernah minta terlahir sebagai orang indonesia, berkulit kuning, bersuku campuran jawa sumatra dan mewarisi agama islam sebagai agama yang kemudian saya percayai. 

 

Saya berusaha memperlakukan orang lain sebagaimana saya ingin diperlakukan. Ketika ada seorang anak bangsa berkarya, jujur dan hasil kerja kerasnya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Saya mengapresiasi hal itu tanpa melihat SARA. Sekali lagi, kita tidak pernah memilih untuk terlahir dimana dan sebagai siapa. Maka, adilah sejak dalam pikiran. Karena itu menentukan kecerdasan mu berpikir dan berpersepsi.


 

Islam adalah agama yang benar. Tidak saya ragukan hal itu sedikitpun. Tapi faktanya saat ini, diakui atau tidak, khalifah islam yang memimpin ibu kota sebelumnya, belum ada yang mampu bekerja maksimal, jujur dan dapat berdiri diatas semua golongan sehingga kerjakerasnya dirasa adil.

Sejujurnya, Karena seringnya. Catat, seringnya! Oknum memakai ayat suci Quran untuk kepentingan pribadi, saya jadi resisten dengan orang yang dengan mudah mengobral ayat dan asma Allah. 

Kemampuan memimpin dan manajemen adalah seni. Pakemnya ada tapi prakteknya unik. Selama kerjanya nyata untuk rakyat. Saya tidak peduli dengan ucapan dan sikap yang katanya kasar. Saya muak dengan si alim, si intelektual, si santun yang berwibawa tapi tersenyum manis didepan kamera mengenakan jaket oranye KPK. 

Jika saya berhak memilih, sayangnya tidak. Saya akan memilih anak bangsa yang sudah teruji secara empirik kerja kerasnya. Terlepas dari apa SARA nya. Enggak usah sotoy jadi analis politik deh, apalagi ikut-ikutan nyolot gara-gara situ muslim jadi merasa paling berhak masuk surga. Emang kalo situ nyalonin diri, ada yang mau milih ? Terus klo udah kepilih jadi pemimpin, Emang BECUS ?!

Rumah, 12 Oktober 2016

0 Komentar