Riyanti sahabat kecil ku


Beberapa hari lalu, aku menerima kabar duka cita ats meninggalnya seorang teman dimasa kecil, teman main. Mungkin usianya sebaya atau paling tidak setahun dibawah ku. Aku memanggilnya Ri. Anak hitam manis yg patuh dg orang tua.
Setiap hari selepas sekolah, Ri membantu orangtuanya. Orang tua Ri pedagang. Kami maklum klo saat sdg seru main, tiba2 Ri dipanggil ibu nya. Untuk membeli sesuatu di warung. Biasanya tidak lama Ri akan bermain lagi. Tp tidak jarang, Ri tidak bergabung melanjutkan permainan. Karena ibu nya butuh tenaga ekstra di dapur. Ri jg tidak keberatan menjajakan dagangan keliling kampung. Bakul dagangan berat itu di gendong tubuh kurusnya tanpa malu. Sore hari Ri membantu ibunya mengangkat dagangan ke pasar, membantu melayani pembeli dan membantu menutup warung menjelang jam 9. Entah kapan Ri belajar. Setau ku, Ri tidak ikut sekolah madrasah dan mengaji seperti kebanyakan anak di desa kami. Ri di didik keras untuk bertahan n menerima hidup.
Setamat SD, kami tidak pernah bertemu lagi. Aku melanjutkan sekolah di Jakarta dan Ri ku dengar "bekerja". Bertahun kemudian, karena rumahnya bertetangga dg rmh nenek ku, sesekali kami bertemu. Sekedar say hi dan bersalaman. Ri berubah dari segi penampilan. Mengikuti jaman. Aku sempet datang ke syukuran pernikahannya dg putra bos nya yg sudah beranak istri. Pengantin itu mengejek ku "kamu enggak panas apa nis pake baju gombrong begitu? Aku aja risih liatnya" aku senyum aja.
Oktober lalu, waktu aku mudik, aku bertemu Ri dipasar. Senyumnya lebar n ceria seperti biasa. Dia menanyakan kabar ku. Dan aku menanyakan kenapa dia begitu kurus n pucat. Ri menjawab ku dg kelakarnya "kayak kamu gemuk aja..." Kami tertawa.
Paginya, kami bertemu lg diperempatan jalan. "Nis, aku sakit. Udah lama" katanya. "Halah, org cantik gini sakit apaan coba?" Jawab ku sekenanya. "Kamu plg kpn ke jkt, nanti aku kermh ya? Biar kamu liat hsl pemerikasaan ku" tanyanya. Tapi sampe sore ku tunggu di rumah n kemudian aku plg ke jkt, Ri tidak datang. Akupun sungkan mendatangi rumahnya. Karena disana banyak laki2 n perempuan main judi sambil minum.
November lalu, Ri anak yg berbhakti itu meninggalkan kedua anaknya yg msh kecil2 untuk selama2 nya. Aku mendengar sebab kematiannya dari banyak sumber. Penyakit konsekuensi dari sbh pilihan, kata mereka. Siapapun kamu Ri, kamu tetap teman terbaik ku. Teman pengisi masa kecil ku yg indah. Kenangan akan mu akan ttp tumbuh dalam ingatan ku. Semoga khusnul khatima, Ri...

Repost

Desember 2015

0 Komentar